Showing posts with label bangga jadi muslim. Show all posts
Showing posts with label bangga jadi muslim. Show all posts

Kau tau tapi tak mau

Megita Rubi 12/16/2017 Add Comment
Dina Putri Maharani | Mahasiswa IAIN Syekh Nurjati | Tadris IPA Biologi

kau-tau-tapi-tak-mau-jurnal-kehidupan

Kini mereka tercampakkan
Membumi hanguskan yang tersisih
Tak kuasa timbulkan elakan
Melahap semua yang terkasih .

Kian nyawa berserakan
Tapi semua bersandiwara
Tak kuasakah kau tampakan ?
Sorang tokoh dalam kenyataan!

Mulut sorang berbicara iba
Namun, aksi terbata bata
Hingga kini iba sulit tuk tiba
Karena hati itu tak tertata

Kejam!
Semua sibuk dengan perannya .
Menghasilkan senyuman lebam,
Dan Menjajah beribu warni cahaya.

Rabb Mu sungguh Maha terkasih
Memeluk tuan yang tersisih
Menimang puan yang melirih
Maka, Bantulah! Tuk jadi yang terpilih .

Hijrah Diri

Megita Rubi 12/13/2017 Add Comment

hijrah-diri-jurnal-kehidupan

Untukmu yang masih berada di dalam zona kebimbangan

Merasa diri belum mantap untuk berhijrah dengan dalih belum pantas, belum baik dan lain sebagainya

Padahal untuk bersekolah sekalipun kita tidak harus menjadi pandai dulu

Justru karena ikut bersekolah kita ingin menjadi orang yang pandai

Lalu apa bedanya dengan berhijrah?

Bukankah memang dengan berhijrah kita ingin menjadi pribadi yang lebih baik?


Bersegeralah dalam kebaikan

Karena tidak ada kata terlambat untuk berubah, yang ada hanya menunda-nunda apa yang seharusnya  dilakukan

Mulailah dengan satu langkah awal dan berjalanlah bersama dengan sahabat-sahabat surga

Karena seribu langkah tidak akan pernah tercipta tanpa satu langkah awal yang pasti

Tenanglah, Allah selalu bersama kita

Kita butuh cinta

11/15/2017 1 Comment
-Guntur Mahesa Purwanto | Islamic Teens Inspirators-

kita-butuh-cinta-jurnal-kehidupan

Sehebat apapun kita berpaling terhadap CINTA , pada akhirnya kita pasti membutuhkannya.

Contoh, lelaki kekar, tegas, disiplin, berani, tangguh, dan sebagainya. pasti akan luluh juga ketika ia merasakan hadirnya cinta pada dirinya.

Permasalahan tentang hal ini adalah ketika ia tidak tahu, hilang arah bahkan tidak mau tahu ketika islam mengarahkan para penganutnya bagaimana aplikasinya.

Orang-orang yang sedang galau, gelisah atau sedang kasmaran di sosmed, dan sebagainya. Secara psikologis, mungkin dirinya memerlukan yang namanya bimbingan, bukan hujatan. Karena era sekarang itu, sosmed itu sudah menjadi DIARY.

Coba kawan-kawan jujur saja, dahulu ketika masih tahun 90-an bahkan jauh sebelumnya, tulisan itu adalah wakil dari gundahnya perasaan. Memang tidak semua orang seperti itu, tapi ini adalah argumen dari mereka-mereka yang bersikap demikian.

Memang, terkadang juga di antara kita ada yang geli ketika membaca atau membahas masalah seperti ini, bahkan risih. Itu sih kembali pada masing-masing, yang pasti ketika kita juga terlalu aneh dengan perasaan baper yang sudah over load (apalagi di sosmed), secara tidak sadar kita juga telah menjatuhkan wibawa kita.

Tapi bagi kamu yang merasa jangan sedih dan sakit hati, tetaplah perbaiki diri, biarlah setiap kesalahan adalah guru bagi kita agar senantiasa lebih baik lagi, kawan.

Berkacalah, kemudian senyumlah pada dirimu yang cantik/ tampan itu

Mawar putih

10/24/2017 Add Comment
-Syukron Fadillah | Islamic Teens Inspirators-

mawar-putih-jurnal-kehidupan

Belajarlah dari bunga mawar putih, memiliki banyak penilaian namun tetap memukau dengan apa yang terkandung di dalamnya.

Terkadang disebut bunga kesedihan, sebab kerap kali melengkapi sebuah perpisahan, namun lihatlah dari sudut pandang lain.

Mawar putih adalah sebuah bunga yang pas untuk moment romance, sebab warnanya mengandung nilai estetika yang memaparkan kesucian, keindahan, dan ketulusan.

Oleh karena itu, walaupun orang lain menilai kita dengan pandangan yang berbeda, tetaplah tegak berdiri dengan pancaran aura aslimu sebagai seorang yang baik layaknya mawar putih.

Kewajiban Dalam Menuntut Ilmu

10/20/2017 Add Comment
Oleh : Fina Masbihah
(Siswa MAN 3 Majalengka | Anggota KIR-Kelompok Ilmiah Remaja)


Menuntut ilmu adalah suatu kewajiban,  terutama kita selaku seorang muslim. Karena dengan menuntut ilmu, wawasan kita akan bertambah, kita dapat mengetahui sesuatu hal yang baru dan dapat menambah pengalaman. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW di dalam hadistnya : "Mencari ilmu itu wajib bagi tiap-tiap muslim."(HR. Ibnu Majah).

Sekuat apapun rintangannya, kita janganlah mudah menyerah dan putus asa, tetapi kita harus mempunyai semangat juang yang tinggi untuk menuntut ilmu. Allah SWT berfirman, yang artinya : "Katakanlah (Wahai Muhammad) apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya orang yang berakal lah yang dapat menerima pelajaran." (QS. Az-Zumar : 9).

Mengingat menuntut ilmu adalah suatu kewajiban, maka dunia pendidikan pun sangat berperan penting, baik itu berupa pendidikan di sekolah, pendidikan budi pekerti, pendidikan kewarganegaraan, pendidikan di dalam lingkungan keluarga, dan lain sebagainya, Insya Allah akan menciptakan generasi muda bangsa yang berkualitas.

"Knowladge and skill are tools, the workman is character." Pengetahuan dan keterampilan adalah alat, yang menentukan adah tabi'at. Dari Anas ra, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Barangsiapa keluar dengan tujuan menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali."(HR. Tirmidzi) Dan dengan menuntut ilmu, kita juga akan menjadi seseorang yang berguna bagi masyarakat, agama, bangsa, negara, bagi diri kita sendiri maupun orang lain, serta kepada kedua orang tua. Aamiin Yaa Rabbal almiin...


"Menuntut ilmu adalah takwa. Menyampaikan ilmu adalah ibadah. Mengulang ilmu adalah dzikir. Mencari ilmu adalah jihad." -Imam Al-Ghazali-

Pentingkah Mengurus Orang Lain?

4/06/2017 1 Comment
Oleh : Syukron Fadillah
(Siswa MAN 3 Majalengka | Aktivis KIR-Kajian Islam Remaja)

Pernahkah kita mendengar teman, keluarga, atau siapa pun berucap “Udahlah urus diri kamu sendiri, jangan ngurusin orang lain!!” ketika di ingatkan akan kematian, di nasehati tentang pergaulan, atau di ajak pada kebaikan. Apakah pernyataan itu benar dalam perspektif islam?? Apakah Rasulullah pernah bertutur seperti itu?? Atau pernahkah para sahabat berungkap hal demikian??




Perlu kita gali lebih dalam makna yang terkandung dalam penyataan di atas. Sebenarnya argumen seperti di atas merupakan argumen yang di ungkapkan oleh seseorang dengan pemahaman yang minim ketika di ajak pada kebaikan. Mereka hanya memahami bahwa perbuatan hanya akan berimbas pada diri sendiri sehingga tak perlu mengingatkan orang lain tantang kebaikan, ataupun tentang bahayanya kemaksiatan dan lain sebagainya.

Mereka juga berfikir bahwa memperbaiki diri sendiri lebih penting ketimbang mikirin, ngurusin, and nasehatin orang lain. Okh, sepintas argumen ini benar. Tapi, perlu kita ketahui bahwa ketika kita memperbaiki akhlak sendiri (pribadi) sedangkan kita tak mengingatkan teman sebaya kita yang sibuk maksiat, kita juga terpengaruh lho.


Ingatkah tsunami aceh beberapa tahun silam?? Atau ingatkah banjir bandang yang meluluh lantahkan garut tahun 2016 kemarin?? Apakah yang meninggal hanya orang-orang yang bermaksiat seperti mabuk, berzina, pacaran, serta memakan harta haram?? Tidakkah ada para ustad, santri, haji, dan ulama yang terkena imbasnya?? Tentu yang terkena dampak bencana-bencana tersebut bukanlah orang-orang yang jahat, dan bermaksiat saja. Orang yang beriman pun kena batunya.

Begitu pula dengan kita. Ketika kita sibuk memperbaiki diri sendiri lantas melupakan dakwah, seperti menasehati temen, mengajak temen pada kebaikan. Maka hal itu akan sia-sia saja. Karena lingkungan yang buruk itu akan membuat pribadi kita pun buruk. Okh simak hadits berikut.


Rasulullah bersabda “barang siapa yang berteman dengan pandai besi maka akan terkena baunya, dan barang siapa yang berteman dengan penjual minyak wangi, maka akan terkena pula wangi tubuhnya.” (HR. Bukhori)
 
Dari hadits di atas dapat kita pahami bahwa teman itu dapat membentuk, menentukan, dan mengembangkan sikap serta karakteristik diri kita. Maka pentinglah bagi kita untuk bisa membentuk lingkungan yang kondusif dengan mengingatkan, menasehati, serta mengajak teman pada kebaikan sebagai proses dakwah.


Bahkan Allah SWT Berfirman :
“Dan hendaklah ada segolongan umatku yang menyeru pada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali imran :104)

Tuh kan, Allah saja menyuruh kita mengajak, dan menyeru kebaikan. Artinya Allah memerintahkan pada kita untuk peduli sesama. Ingat lho kita makhluk sosial bukan makhluk halus! Jadi perlu dan amat memerlukan orang lain. Tentunya orang yang akhlaknya baik. Bagaimana cara merealisasikannya kalau teman kita malah doyan maksiat?? Ya di ingetin, dan di urusin! Itu tandanya kita temen yang sayang.

Nah kembali pada permasalahan tadi! Ungkapan yang menyuruh kita untuk mengurus pribadi kita sendiri. Bisa kita lihat dengan jelas bahwa argumen ini hanyalah argumen defensif (argumen melindung), untuk melindungi orang yang mengungkapkannya, karena bisa saja dia merasa dan mengakui kesalahannya, doyan maksiat, jauh dari taat, tapi gak mau tobat. Argumen defensif seperti ini banyak di jumpai di lapangan karena kemerosotan pola pikir yang jauh dari pemahaman Islam. So, janganlah bertutur kata seperti itu!!

Allah SWT juga berfirman :
“kamu (umat islam).adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh berbuat yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali imran : 110)

Ayat di atas sungguh luar biasa, mengabarkan bahwa umat islam adalah umat terbaik untuk seluruh manusia lho, ingat seluruh manusia! Bukan diri sendiri ya.. Hhe.. Lihat aja syaratnya yang di jelaskan di ayat diatas. Agar lebih faham lagi mari kita kupas sama-sama.

1. Menyeru pada yang ma’ruf
Point pertama ini artinya mengajak pada kebaikan. Nah, kalau ngingetin bahayanya pacaran yang seringkali berujung pada perzinahan, mengajak shalat, mengaji, bersedekah masuk kategori ini gak?? Tentu masuk dong.. Jadi, buang jauh-jauh pola pikir “jangan ngurus orang lain, urus aja diri sendiri!!” itu.

2. Mencegah dari yang mungkar
Ketika pacaran, banyak sekali timbul perzinahan, lahir anak tanpa ayah, aborsi, ibu muda bunuh diri, fenomena perselingkuhan, dan lain sebagainya di biarkan begitu saja, apa kita gak bakal kena imbasnya?? Ingat banjir bandang di garut tahun kemarin, yang jahat, yang baik, yang durhaka, maksiat, sholeh, dan taat semua di sapu bersih tanpa pilih-pilih.

Jadi, penting bagi kita untuk menjaga teman yang kita sayangi tetap dalam lindungan Allah dengan membuatnya taat pada aturan-Nya, seperti taat tidak pacaran karena pacaran di larang islam. Dan mendakwahkan pada teman kita. Jangan shaleh sendiri! Kalau bisa masuk surga sama-sama kenapa harus sendirian. Bener gak??

3. Beriman kepada Allah
Point yang terakhir ini lebih luar biasa lagi. Kita ini harus beriman pada allah. Kalau kita pacaran, dan sudah di ingatkan oleh teman kita bahwa pacaran itu di larang agama islam, kita termasuk orang beriman tidak yah??

Jangan sia-siakan teman kita yang mengingatkan pada kebaikan, menjaga keselamatan kita dari jurang kemungkaran. Kalau apa yang di katakannya benar sesuai dengan Al-qur’an dan Hadits, sepahit apapun itu, terimalah. Jangan membuat alasan, atau argumen defensif (argumen pelindung).

Makanya daripada kita pikirin akhlak kita masing-masing, akan lebih baik bila kita memperbaiki, mengupgrade akhlak pribadi di sertai membangun, dan membentuk lingkungan yang kondusif agar jalan pada ketaatan lebih mudah dilalui. Ingatlah sabda Rasulullah di atas. Temen itu sangat berpengaruh bagi akhlak kita. So, mengingatkan teman akan bahaya pacaran, mengajak pada kabaikan, dan mencegah dari segala bentuk kemungkaran merupakan langkah awal kita membangun lingkungan yang kondusif.

Sumber:  urangmajalengka.com