Showing posts with label semangat hijrah. Show all posts
Showing posts with label semangat hijrah. Show all posts

Bersujudlah

1/12/2019 Add Comment

bersujudlah-jurnal-kehidupan

Wahai sahabat sahabatku...
Memanglah dunia itu penuh dengan permasalahan...
Penuh kekecewaan...
Penuh penderitaan...

Semua itu datang tak terduga dan tak pernah kita menginginkannya.

Kitapun menginginkan masalah itu dapat terselesaikan,
Kekecewaan dapat terobati,
Penderitaan dapat terhenti,

Namun hal itu tak mudah untuk kita hadapi...

Lantas mengapa engkau merasa mampu mengadapi?

Wahai sahabat sahabatku...
Jika engkau tak mampu mengadapi masalah yang selalu hadir dalam hidupmu, bukan kah engkau mempunyai illahi rabbi yang selalu ada di dalam suka duka pada diri, Dialah Allah yang dengan Rahman-nya engkau dikasihi dan dengan Rahim-nya engkau disayangi...

Bersujudlah pada-Nya dan tuangkan permasalahanmu itu, katakanlah apa yang saat ini engkau rasa...

Allah akan mendengarnya, dan mintalah... Apa yang engkau ingin sebab Allah akan memberikannya.

Tak perduli seberapa besar dosa hambanya...
Tak perduli seberapa bejat hambanya...

Yang Allah tau engkau adalah Hambanya, selagi engkaupun mau kembali Menghadapnya..

Hijrah Diri

Megita Rubi 12/13/2017 Add Comment

hijrah-diri-jurnal-kehidupan

Untukmu yang masih berada di dalam zona kebimbangan

Merasa diri belum mantap untuk berhijrah dengan dalih belum pantas, belum baik dan lain sebagainya

Padahal untuk bersekolah sekalipun kita tidak harus menjadi pandai dulu

Justru karena ikut bersekolah kita ingin menjadi orang yang pandai

Lalu apa bedanya dengan berhijrah?

Bukankah memang dengan berhijrah kita ingin menjadi pribadi yang lebih baik?


Bersegeralah dalam kebaikan

Karena tidak ada kata terlambat untuk berubah, yang ada hanya menunda-nunda apa yang seharusnya  dilakukan

Mulailah dengan satu langkah awal dan berjalanlah bersama dengan sahabat-sahabat surga

Karena seribu langkah tidak akan pernah tercipta tanpa satu langkah awal yang pasti

Tenanglah, Allah selalu bersama kita

SENJA BERJINGGA : Ketika Matahari Tenggelam

10/29/2017 Add Comment
Oleh Megita Rubiana Sabella

senja-berjingga-ketika-matahari-tenggelam-jurnal-kehidupan

Rasanya sudah terlampau jauh aku menjadikannya sebagai seseorang yang terus aku pikirkan selama tiga tahun di SMA. Hanya karena aku merasa bahwa sikapku ini kurang baik terhadap perasaannya. Seseorang pernah berkata padaku bahwa untuk seorang gadis yang sedang di sukai oleh orang lain, sikapku ini terlalu acuh. Meski sedikit kutepis prasangka itu, namun sepertinya aku memang harus lebih menghargai dia yang pernah menyatakan perasaannya padaku. Semua ini berawal saat aku duduk di bangku kelas satu, ketika bel pulang berbunyi, semua teman-temanku sudah pulang namun Tio menahanku. “Aku menyukaimu, Olive.” Ditengah langit berhias jingga, dia mengatakan kata-kata itu padaku. Aku terkejut, lidahku kelu, jantungku berdetak tak karuan. Perasaanku berteriak untuk segera menjawab pernyataannya itu. Namun jauh dalam lubuk hatiku, terdengar suara lirih yang membuatku tertegun.

Jika kamu menerimanya, kamu dan dia akan menjalin sebuah hubungan berpacaran. Siapkah dirimu menjadi seorang perempuan yang akan menjalin hubungan dengan laki-laki yang sama sekali tidak kamu kenal? Bukankah perihal cinta dan kasih sayang itu biasanya mereka persiapkan untuk dirinya di masa depan? Lalu bagaimana kamu akan menjelaskan hubunganmu ini nanti? Dan untuk menikah, kamu bahkan belum bisa menyelesaikan tugas sekolahmu dengan baik. Ini bukan saatnya membicarakan cinta, kasih sayang apalagi sebatas perasaan yang terkadang hilang begitu saja.

Kamu masih menolak? Baiklah, mungkin jika Tuhanmu yang memerintahnya mungkin kamu akan menerimanya. Roda kehidupan dunia yang kamu jalani tak lepas dari pengawasan-Nya, kamu tidak akan bahagia jika melanggar perintah-Nya. Bahkan untuk mengutarakan perasaan cinta, jika tak kamu utarakan dengan cara yang benar menurut pandangan-Nya, maka kamu akan tergelincir oleh kebahagiaan dunia yang tak lebih dari ilusi semata.

Aku menghela napas, entah siapa yang mengatakan semua hal itu padaku. Namun hatiku tak bisa menyangkalnya bahwa aku memang tidak bisa menerima pernyataan ini. Terlalu cepat untuk memulai sebuah hubungan percintaan, terlebih dengan hubungan seperti ini akan membuatku semakin tak bisa bebas melakukan hal apapun. Kekasih? Siapa dia? Mungkin perihal jodoh adalah kuasa Allah, tapi tekadku mengatakan bahwa tidak ada kebahagiaan yang bisa didapatkan dari kemaksiatan. Bismillah, aku akan menolaknya.

“Sebelumnya terima kasih atas pernyataanmu, Tio, aku lebih suka kamu menyukaiku daripada membenciku, tapi untuk selebihnya aku tidak bisa melakukan apapun. Suka dan tidak suka hanyalah sebuah kata-kata, maka kupikir aku menyukaimu, menurut pemikiranku.” Kusudahi pembicaraan empat mata ini dan meninggalkan Tio. Sejak saat itu aku terus memikirkan apakah Tio akan mengerti atau tidak.

Setelah pernyataannya itu, aku dan Tio berteman seperti biasa sampai saat kelas tiga ini. Bahkan komunikasi antara kami berdua masih sama seperti dulu. Seperti tak terjadi apapun, meskipun aku yakin bahwa tidak ada penolakan yang halus, tak membekas sedikitpun, namun aku percaya bahwa ini adalah yang terbaik. Bahkan setelah itu aku dan Tio sering bertemu dalam satu kelompok pelajaran, tentu kami berdua banyak berdiskusi.

“Kamu menolak Tio, tapi Tio bahkan tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Dia masih menyukaimu, Olive.” perkataan Lala saat jam istirahat di sebuah kantin itu sedikit membuatku terkejut, karena sepenglihatanku Tio sepertinya sudah tak ada perasaan lagi denganku.

“Dan kamu Olive, sikapmu itu terlalu kejam untuk dia! Tidak bisakah kamu sedikit tersenyum ketika Tio melihatmu?” Ufa menambahkan, aku semakin terpojok saat itu. “Aku hanya bersikap biasa kepada Tio, kurasa Tio pun bisa menerimanya. Aku tidak mau dia merasa memiliki harapan apapun, aku hanya ingin dia menyadari bahwa hubungan berpacaran bukanlah cara melampiaskan perasaan yang tepat.”

Ufa dan Lala menghela napas panjang, aku bingung dengan mereka berdua. “Kamu itu terlalu kaku, Olive. Anak muda jaman sekarang itu sudah biasa dengan pacaran.” tegas Ufa.

“Iya betul, aku dan Ufa juga sudah punya pacar sekarang, kenapa kamu tidak menerima Tio saja? Setelah itu kita bisa berbagi pengalaman tentang hubungan berpacaraan kita bertiga kan?” Aku hanya tersenyum mendengar pendapat dari teman-teman yang memang sangat dekat denganku sejak kelas satu SMA.

“Maaf aku tidak bisa seperti kalian, aku hanya mempunyai pemikiran yang berbeda tentang hubungan ini. Aku ingin langsung menikah.” Lala dan Ufa tiba-tiba menatap tajam kearahku. “Kita masih kelas tiga SMA, Olive sadar! Kamu mau nikah muda?” Aku tertawa kecil. “Bukan sekarang maksudnya, tapi nanti kalau sudah ada calonnya. Untuk pacaran, aku tidak terlalu tertarik dan juga..“

“Dilarang oleh agama?” Ufa memotong pembicaraanku.

“Eh?” Aku melihat kearah Ufa.

“Iya, aku mengerti kok. Mungkin seharusnya aku yang mengikuti kamu, bukannya memaksamu untuk sama seperti kita berdua. Maaf, Olive, aku belum bisa sepertimu.” Suara Ufa terdengar lirih. “Aku dan Dani sudah berpacaran selama dua tahun, aku terlalu naif jika harus memutuskannya sekarang. Untuk jadi sepertimu itu sulit Olive.” Lala menundukkan pandangannya, aku tersenyum. Entah kapan mereka berdua menyadari bahwa cahaya Allah sudah terpancar dari dalam hati mereka berdua. Aku selalu mendo’akan mereka berdua untuk segera keluar dari lingkaran kegelapannya. Aamiin.

“Semangat! Nanti, kalau kalian berdua putus dengan pacar kalian, hubungi aku ya?” Aku tertawa kecil.

“Olive kejam!!” Aku tertawa bersama mereka berdua, rasanya indah sekali jika bersama-sama dengan mereka. Meskipun aku dan mereka tak satu pemikiran, tapi aku dapat memahami bahwa sebenarnya mereka menyadari apa yang mereka lakukan. Ini hanya masalah waktu, kapan mereka bisa meredam ego dalam hati dan menerima fitrah mereka sebagai seorang manusia yang ingin selalu dihargai perasaannya.

Hari-hari berikutnya, aku tak bisa membayangkan bahwa hubunganku dan Tio setelah pernyataannya itu akan menjadi serumit ini. Terlebih Ufa dan Lala terus memarahiku karena sikapku terlalu acuh terhadap Tio. Aku seperti seseorang yang tidak bisa menghargai perasaan orang lain, aku bingung. Kuambil cara paling tepat yaitu dengan sedikit lebih sering berbicara dengan Tio, meskipun dalam lingkup diskusi ketika belajar saja, karena aku tidak bisa melakukannya lebih dari itu. Semakin lama, aku merasa bahwa aku sering memikirkan Tio. Bukan karena aku mulai menyukainya, tapi karena mengkhawatirkannya. Tentang apakah sikapku ini tidak membuatnya sakit hati atau tidak? Atau tentang apakah sebenarnya dia sudah tidak memiliki perasaan lagi padaku? Jika benar, aku ingin mengetahuinya lebih awal, agar aku bisa menjalani kehidupanku seperti dulu lagi, tak lagi terikat dengan perasaan orang lain.

“Sudah kubilang kalau Tio itu masih menyukaimu! Lihat saja dari sikap dan tatapan matanya! Kamu itu tidak percaya sekali padaku!” Ufa menceramahiku begitupun dengan Lala.

“Aku takut semua itu hanya prasangka kalian saja.”

“Aku yakin seratus persen, Olive!” Dengan cepat kuambil kesimpulan bahwa Tio masih menyukaiku, meskipun aku masih ragu. Jika benar begitu, aku harus lebih memperhatikan sikapku agar tidak menyakiti Tio. Kutekadkan semua ini dalam hatiku.

Keesokan harinya, hujan pun mulai turun ketika jam istirahat. Sayangnya aku tidak membawa payung hari itu. Saat bel pulang berbunyi, aku hendak menunggu hujan reda di dalam kelas setelah Lala dan Ufa pamit untuk pulang karena mereka berdua pulang satu arah, kupikir hanya aku saja yang belum pulang, ternyata seorang laki-laki yang mendadak saja membuatku terkejut masuk ke dalam kelas.

“Olive?”

“Tio?” Ternyata Tio masih ada kegiatan ekstrakurikuler. Kikuk, itu pasti. Aku tidak berniat untuk membicarakan apapun, terlebih hanya aku dan Tio saja yang berada di dalam kelas itu, rasanya aku ingin cepat pulang karena takut terjadi hal yang di luar dugaanku. Tio duduk dibangkunya, aku semakin bingung dengan keadaan seperti ini. Hujan di luar mulai mereda, tak habis pikir lagi, aku pun segera beranjak dari tempat dudukku dan pergi meninggalkan Tio. Namun belum juga aku keluar melewati pintu kelas, Tio memanggilku. “Olive, tunggu!” Jantungku berdegup kencang. “Ada apa?” Aku menoleh.

“Sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu.”

“Apa itu?”

“Aku masih menyukaimu dan akan selalu menyukaimu. Mungkin semua ini terdengar konyol, karena kamu sudah menolakku dulu. Tapi aku benar-benar tidak akan bisa bersama dengan perempuan lain.” Saat itu aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kudengar.

“Terima kasih, aku yakin kamu mengatakan itu sebagai seorang teman. Aku pulang duluan ya.” Tio tersenyum, aku pun segera pergi meninggalkannya. Namun tetap saja, dengan begitu aku harus bisa lebih menjaga sikap dan jarak terhadap Tio. Meskipun sulit, akan kuusahakan untuk tetap bersikap seperti biasa saja.

Lagi-lagi setelah Tio mengatakan hal itu padaku, aku lebih sering memikirkannya. Rasanya tak karuan, tak bisa kujelaskan dengan rinci tentang apa yang selalu aku pikirkan. Tapi benang merahnya aku sudah paham. Aku tidak bisa melakukan apapun dengan perasaan Tio padaku, tapi aku tidak ingin menyakitinya juga. Sungguh dilema, tapi untuk menerimanya sekalipun itu bukan pilihan yang tepat. Aku hanya berharap suatu saat waktu akan memberiku jawaban yang jelas tentang apa yang sebenarnya harus kulakukan.

Keesokan harinya, suasana kelas menjadi gaduh. Aku belum bisa menemukan penyebab kegaduhan ini, namun tiba-tiba kudengar nama Tio.

“Tio dan Putri sudah berpacaran selama dua minggu.” Aku terkejut sekaligus bingung dengan berita yang membuat gaduh kelasku. Entah hanya berita palsu ataupun memang benar adanya aku ingin mengetahui yang sebenarnya. Karena jelas hal ini membuatku semakin bingung, terlebih kemarin Tio mengatakan dengan tegas tentang perasaannya, rasanya tak ada yang bisa kupercayai saat ini.

Dengan berita yang beredar itu, aku semakin memikirkan Tio. Ingin kutanya padanya tentang semua yang membingungkan ini, tapi untuk apa? Jika benar Tio sudah tak ada lagi perasaan padaku, bukankah lebih bagus? Aku tidak harus lagi memikirkan bagaimana aku harus bersikap. Namun, hidup di tengah keragu-raguan dan ketidakjelasan seperti ini memang tidak menyenangkan.

Sepertinya Allah mengetahui isi hatiku saat ini, tentang kejelasan dan kesimpulan dari semua ini. Dengan takdir Allah, waktu menuntunku pada sebuah kejelasan yang sudah cukup membuatku mengerti. Di bawah langit yang sama, dengan hiasan jingga yang bertaburan di atas langit, aku melihat Tio dan Putri melintas dihadapanku. Tangannya menggenggam tangan Putri, bibirnya tak habis-habisnya tersenyum, lalu tertawa bersama. Dia, Tio, laki-laki yang mengatakan padaku bahwa akan selalu menyukaiku beberapa hari yang lalu kini berjalan dengan bahagianya bersama perempuan lain. Sebenarnya bukan tentang bagaimana perasaanku melihat mereka berdua, tapi tentang bagaimana aku merasa bersyukur atas pilihanku dulu. Lala dan Ufa tak henti-hentinya menghiburku seolah-olah aku merasa sedih dengan semua hal ini. "Aku tidak apa-apa, bukankah sejak awal aku sudah menolaknya?"

"Aku pikir Tio masih menyukaimu, Olive, jadi aku berusaha untuk terus mendukungmu dengan dia." Aku hanya tersenyum. "Aku pun berpikir begitu, karena sikap Tio kepadamu seperti seseorang yang jatuh cinta, jadi.."

"Sudah, tidak apa-apa. Semuanya sudah berakhir, aku senang jika Tio tidak ada perasaan lagi padaku, dengan begitu aku tidak usah memikirkan bagaimana perasaannya lagi, aku bahagia dengan semua ini. "Aku tidak bisa mengatakan kepada mereka berdua bahwa sebenarnya Tio telah mengatakan padaku bahwa dia memang masih menyukaiku dan bahkan memperjelas perkataannya bahwa dia akan selalu menyukaiku. Aku tersenyum, bahkan terkadang tertawa tentang apa yang sebenarnya terjadi. Rasanya bodoh sekali jika selama ini sibuk memikirkan bagaimana perasaan Tio, tentang bagaimana aku harus bersikap agar tidak membuat Tio sakit hati dan lain sebagainya. Aku menyibukkan diri dengan memikirkan perasaan orang lain, bahkan mungkin dia tidak pernah memikirkan itu. Namun semuanya telah terskenario dengan baik, Allah menuntunku pada sebuah kenyataan yang begitu memukulku. Bahwa jika aku memang sudah bertekad untuk menolaknya, maka pembahasannya tidak akan seperti ini. Cukup dengan pembatas, perasaan Tio adalah perasaan Tio dan perasaanku adalah perasaanku. Hanya itu, karena luka dalam hati tak ada seorang pun bisa menghindari, maka terlalu egois untukku berusaha agar Tio tidak sakit hati dengan sikapku. Meskipun dipenglihatanku, Tio seolah-olah mendorongku ke dalam jurang perasaannya, lalu meninggalkanku sendirian seakan tak ada pilihan selain masuk ke dalam jurang perasaan itu. Namun, sinar matahari di senja kala itu membuatku sadar tentang jurang perasaan yang Tio buat dan dengan tenggelamnya matahari pada sore hari itu sinarnya mengiringi langkahku untuk pergi menjauh. Hingga sampai esok pagi aku bisa menjalani kehidupanku seperti dulu lagi.

Aurat Wanita | Bagian 2

10/25/2017 Add Comment
Mustanir Rasyid-03 Agustus 2017

aurat-wanita-bagian2-jurnal-kehidupan

Para wanita era sekarang masih banyak yang tidak mengetahui perkara apa itu Jilbab dan Kerudung. Maaf-maaf, masih saja banyak yang sibuk dengan sinetron dan drama-drama yang sering ia tonton sehingga lalai terhadap kewajibannya sendiri dalam menjalankan perintah Allah Ta'ala. Akibatnya, terlarutnya ia atas nama hiburan dan belum tentu hiburan itu pun membawa manfaat yang selayaknya ia habiskan waktunya tuk menabur pahala bagi diri dan sekelilingnya.

Tulisan tentang Kerudung dan Jilbab sebetulnya lebih koherensi jika yang menyampaikannya ialah wanita itu sendiri. Namun, bagi saya sendiri tidak masalah ketika saya sebagai pria mengetahui tentang hal ini untuk di share kan. Tetapi, bagi wanita yang membaca tulisan saya mengenai perkara ini, alangkah baiknya didakwahkan kembali, karena kalianlah yang memiliki hak dan lebih nyambung nantinya.

Oke, dari pada bingung dan penasaran silahkan simak tulisan berikut ini.

Pertama, perlu ditegaskan bahwa kita berpakaian tidak semata-mata menutup aurat! Melainkan harus syar'i.

Ada beberapa pendapat di kalangan ulama tentang definisi jilbab.

Ibnu Rajab mengatakan jilbab itu mala-ah (kain yang menutupi seluruh tubuh dari kepala sampai kaki yang dipakai melapisi baju bagian dalamnya, seperti jas hujan). Pendapat ini juga dipilih oleh al-Baghawi dalam tafsirnya dan al-Albani.

Ada juga yang berpendapat jilbab itu sama dengan khimar alias kerudung sebagaimana disebutkan oleh an-Nawawi, Ibnu Hajar, dll. As-Sindi mengatakan, “Jilbab adalah kain yang digunakan oleh seorang perempuan untuk menutupi kepala, dada, dan punggung ketika keluar rumah.” (Muslimah.or.id)

Kedua, kita harus mengetahui ayat mana yang memerintahkan perkara jilbab. Jawabannya yakni Al Ahzab: 59 yang artinya sebagai berikut.

"Hai Nabi, katakanlah kepada istri istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka." yang demikian itu supaya mereka lebih mudah Untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang." (QS al-ahzab: 59)

Asbabun Nuzul QS. Al-Ahzab: 59 tentang wajibnya Jilbab. Diriwayatkan bahwa istri" Rasulullah pernah keluar malam untuk hajat buang air, pada waktu itu kaum munafiqin menggangu mereka dan menyakiti. Hal ini kemudian diadukan kepada Rasulullah SAW, sehingga Rasul menegur kaum munafiqin. Mereka menjawab: "kami hanya mengganggu hamba sahaya." Turunlah QS. Al Azhab: 59 sebagai perintah berpakaian tertutup agar berbeda dari hamba sahaya (diriwayatkan oleh Ibnu Sa'd di dalam a Thabaqat bersumber dari Abu Malik. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Sa'd bersumber dari Hasan dan Muhammad bin Ka'bal al Quradhi).

Hadits yang datang dari Ummu 'Athiyyah ra, ia berkata:

"Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk keluar pada Idul Fitri maupun Idul Adha, baik para gadis, wanita yang sedang haid, dan yang lainnya. Adapun yang sedang haid, maka diperintahkan untuk meninggalkan shalat dan menyaksikan dakwah dan syiar kaum muslimin. Lalu aku bertanya: "Ya Rasulullah, bagaimana jika diantara kami ada yang tidak memiliki Jilbab?" Rasul SAW kemudian menjawab: "Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya." (HR. Muslim)

Dalam hadits tersebut Rasul tidak memberikan keringanan bagi perempuan yang tidak memiliki jilbab untuk keluar rumah hanya dengan sekedar menutup aurat. Beliau tetap memerintahkan untuk mengenakan jilbab.

Hadits di atas juga menjelaskan bahwa makna jilbab bukanlah kerudung, melainkan baju luar yang dipakai di luar baju rumahnya. Dalam kitab Shofwatut Tafaasir, Imam ash-shobuni, jilbab diartikan sebagai baju yang luas (wasi') yang menutupi aurat.

Dalam kitab Al-Mu'jam Al Wasit karya Dr. Ibrahim Anis (Kairo: Darul Maarif) hlm. 128. Jilbab diartikan "Ats tsaubul musytamil 'alal jasadi kullihi" (pakaian yang menutupi seluruh tubuh), atau "ma yulbasu fauqa ast tsiyab kal milhafah" (pakaian luar yang digunakan di atas pakaian rumah, seperti milhafah (baju terusan), atau "Al Mula'ah tasytamilu biha al mar'ah" (pakaian luar yang digunakan untuk menutupi seluruh tubuh wanita).

Semoga bermanfaat, jikalau ada yang perlu diluruskan atau ditambahkan silahkan. Tulisan-tulisan seperti ini sengaja dibuat dikala remaja banyak yang nongkrong di media sosial, karena itulah saya sengaja selalu menyempatkan diri menulis demikian setidaknya tulisan ini dapat lewat dan terbaca nantinya.

Aurat Wanita | Bagian 1

10/25/2017 Add Comment
Mustanir Rasyid-02 Agustus 2017

aurat-wanita-bagian1-jurnal-kehidupan

Maraknya pelalaian terhadap perintah Allah, padahal dirinya sudah termasuk sebagai Mukallaf (Muslim yang dikenai kewajiban menjalankan perintah agama, termasuk akil baligh di dalamnya. Dikutip dari Buku Moh. Rifa'i. Risalah Tuntunan Shalat Lengkap. 2016. (PT. Karya Toha Putra Semarang: Semarang) Bab 1.

Tidak jarang aktivitas sosial media menjadi ajang mengumbar aurat dengan memajang fotonya sebagai modus atau mencari perhatian dalam hal fisiknya. Membiarkan begitu saja aurat bertebaran tanpa rasa bersalah dan dosa yang menyelimuti dirinya. Hal ini marak terjadi di kalangan remaja terkhusus bagi kaum wanita dalam perkara ini

 Asbabun nuzul QS. An Nuur: 31 tentang Khimar diriwayatkan Asma' binti Murtsid pemilik kebun kurma, sering dikunjungi wanita-wanita yang bermain-main di kebunnya tanpa berkain panjang, sehingga terlihat gelang-gelang kakinya, dada dan sanggul. Selanjutnya Asma' berkata "Alangkah buruknya pemandangan ini, maka turunlah QS. An-Nuur: 31 berkenaan dengan peristiwa tersebut yang memerintahkan kaum mu'minat menutup aurat. (diriwayatkan oleh Ibnu Hatim dari Muqatil yang bersumber dari Jabir bin Abdillah). (Shaleh, HAA. Dahlan dan MD. Dahlan, Asbabun nuzul, 1996, hlm. 356).

Dari asbabun nuzul di atas, dijelaskan bahwa gelang" kaki, dada, sanggul perempuan Arab kala itu masih terbuka. Hal ini menunjukkan bahwa saat itu mereka belum memakai Jilbab.

Kemudian, dijelaskan tentang adanya hadits yang menceritakan bagaimana para muslimah bersegera menutup kepalanya, sebelumnya mereka tidak sempurna menutupnya.

Dari 'Aisyah ra, ia berkata: "semoga Allah merahmati kaum wanita yang hijrah pertama kali, ketika Allah menurunkan firman-Nya. "Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung mereka ke dadanya" (TQS An-Nuur: 31) maka kaum wanita itu merobek kain sarung mereka dan menutup kepala mereka dengannya". (HR. Bukhari)

Bagaimana dengan cerita di atas tadi? Ketika turun ayat mereka langsung taat, sami'na wa ato'na (kami dengar dan kami taat). Lalu bagaimana dengan kamu wahai muslimah? Bukankah dahulu mereka (wanita Arab) jahiliyah? Bandingkan denganmu yang sekarang islam dari lahir? Renungilah...

Dari Shafiyah binti Syaibah ra, bahwa 'Aisyah ra menuturkan wanita Anshar kemudian beliau memuji mereka dan berkata tentang mereka dengan baik. Beliau berkata "ketika diturunkan Surat An-Nuur: 31, maka mereka mengambil kain-kain Tirai mereka kemudian merobeknya dan menjadikannya kerudung."

Sekali lagi sebelum lanjut membaca. Lalu bagaimana dengan kamu wahai muslimah? Bukankah dahulu mereka (wanita Arab) jahiliyah? Bandingkan denganmu yang sekarang islam dari lahir? Renungilah...

Dari kisah di atas, bagaimana perbedaan mental para sahabiyah terdahulu dengan wanita muda sekarang?

Mirisnya di era sekarang, uang untuk membeli kerudung saja sudah bisa terbeli dan harganya tidak terlalu fantastis. Namun sayangnya, masih banyak mayoritas yang lebih mengutamakan pakaian trendi ala barat walau harus melabrak syariat bahkan tidak memperdulikan urusan agama walau harus dibeli dengan harga yang aduhai.

Padahal, makna dari pakaian yang dipakai itu apa? Dapatkah pakaiannya yang mahal dan trendi itu menyelamatkannya di Akhirat kelak? Apakah itu kebahagiaan ketika kita membelinya? Ataukah tergiur dengan adanya istilah trend?

Banyak yang sibuk mencari majalah-majalah atau search tentang model pakaian-pakaian yang lagi ngetop tapi mengabaikan bagaimana islam mengatur pakaian yang syar'i dalam kehidupannya, bahkan mirisnya lagi mereka malah mengenal asing yang namanya pakaian syar'i muslimah itu sendiri. Yang mereka kenali ialah kerudung dengan bawahan Jeans atau baju yang ketat.

Efek dari jauhnya diri dari agama ialah ibarat kita bertamasya yang berharap indah saat perjalanannya namun ujungnya tersesat di dalamnya, sehingga datanglah bala bahaya yang datang mengancamnya.

Istiqomah menempuh jannah

10/24/2017 2 Comments
-Ucu Supriadi | Islamic Teens Inspirators-

istiqomah-menempuh-jannah-jurnal-kehidupan

Tetap bertahan di atas jalan-jalan kebaikan, meskipun menyakitkan, sendirian, bahkan dikucilkan sekalipun, tetaplah berdiri kokoh.

Untuk awalan, (mungkin) jalannya terpatah-patah, jatuh bangun, keseleo, namun hari berganti hari, waktu akan mendewasakan kita, menjadikan kita pribadi-pribadi yang tegar, laksana karang di dasar lautan.

Kelak, kesabaran dan keteguhan langkah kita akan abadi dalam sejarah, dikenang jutaan orang, ditangisi jutaan pasang mata, melahirkan air mata inspirasi, keringat-keringat perjuangan.

Dek, selalu terjaga dalam kebaikan.