Showing posts with label yuk bangkit. Show all posts
Showing posts with label yuk bangkit. Show all posts

Tips menilai diri sendiri

1/28/2019 Add Comment
tips-menilai-diri-sendiri-jurnal-kehidupan

"Hisablah dirimu sebelum dirimu sendiri dihisab, dan timbanglah amal perbuatanmu sebelum perbuatanmu ditimbang." (Umar bin Khattab r.a)

Ungkapan sayyidina Umar bin Khattab di atas agaknya tepat sekali untuk membuka pembahasan kita tentang menilai diri sendiri. kita faham bahwa menilai diri sendiri tidaklah mudah. bahkan yang terjadi adalah, kita dengan mudah menilai oranglain. bahkan tak segan penilaian kita sangat subjektif, hasilnya kerapkali kita menilai buruk oranglain. parahnya orang tersebut adalah orang-orang yang dekat dengan kita, bahkan bisa jadi mereka yang selalu mendukung perjuangan kita untuk meraih cita-cita. sungguh mengerikan.

Sebelum membaca lebih jauh, agaknya harus difahami terlebih dahulu bahwa artikel ini tidak menunjuk person to person, jadi maaf bila artikel ini membuat beberapa hati menjadi sakit karenanya. bahkan sejatinya artikel ini dibuat untuk penulis sendiri. untuk menjadi pengingat diri atau self reminder. semoga pembaca semua memahami sudut pandang artikel ini, aamiin ya rabbal'alamiin.

1. Bercermin diri
Langkah pertama adalah bercermin diri, maksudnya bukan bercermin secara harfiah, lebih dari itu kita harus bisa melihat ke arah diri kita. coba lihat diri kita, sejatinya kita ini memiliki sisi positif dan sisi negatif. kedua sisi ini sebenarnya cuma kita pribadi yang tahu, oranglain hanya meraba-raba, menilai dari yang sekedar terlihat. kita bisa melihat kedua sisi ini dengan tampak nyata jika dihadapkan dengan kesepian, kesendirian, atau kesunyian yang kemudian dibandingkan dengan penilaian oranglain secara harfiah kepada kita.

Jika kita dinilai sebagai sosok yang baik, berakhlak mulia oleh orang-orang terdekat kita, bahkan mereka tidak segan menggantungkan kepercayaan kepada kita. Namun ketika kita masih bisa berfikir kotor, atau bahkan berbuat maksiat ketika dihadapkan dengan kesendirian, atau kesunyian, berarti itulah sosok asli kita. sosok yang kontradiktif dengan penilaian oranglain. maka, solusinya adalah sesali, dan segera bertaubat. selagi pintu taubat masih terbuka kemudian perlahan merubah sifat tersebut.

2. Islam sebagai tolak ukur
Seperti yang kita ketahui, islam bukanlah agama yang hanya mengatur ibadah ritual, atau ibadah mahdah saja. tapi islam mengatur segalanya, islam mengatur kehidupan. mengatur hidup kita dari bangun tidur sampai tidur lagi. sehingga, dalam menilai diripun, seharusnya islamlah yang menjadi tolak ukur. sebab islam menilai hubungan kita dengan Allah swt sebagai ibadah yang bersifat vertikal, menilai juga hubungan kita dengan sesama serta lingkungan sebagai ibadah yang bersifat horizontal, dan terakhir menilai hubungan kita dengan diri kita sendiri.

Hubungan dengan diri sendiri ini harus berlandaskan dengan kepribadian islam. sebab, jika tidak berlandaskan islam maka tidak akan berdampak baik, justru sebaliknya akan menghasilkan dua sifat yang berbeda pada diri kita. sederhananya, baik dihadapan oranglain, tidak merugikan oranglain adalah baik, meskipun ketika kita sendiri terkadang kita menyakiti diri sendiri, tapikan kita tidak menyakiti oranglain. sehingga hal ini baik. inilah yang dihasilkan ketika kita menjadikan selain islam sebagai tolak ukur. tapi sebaliknya, jika kita menjadikan islam sebagai tolak ukur.

Islam menilai bahwa berbohong, atau menyakiti diri sendiri adalah perbuatan buruk, apalagi menyakiti oranglain. sehingga jika terjadi sikap perilaku yang menunjukan kita mendzolimi diri sendiri, maka kita harus faham bahwa mendzolimi diri sendiri adalah dosa, tidak boleh dilakukan. artinya kita harus segera sadar bahwa kita ini seorang muslim, dimana setiap sikap perilaku kita terikat dengan hukum syara'.

3. Fahami identitas diri
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, kita harus sadar bahwa identitas kita adalah seorang muslim. dimana setiap aktivitas kita terikat dengan hukum syara', yakni halal, sunah, mubah, makruh, serta haram. apalagi kita memahami betul bahwa islam adalah agama yang komplit, lebih komplit dari pada jamu komplit mengatur seluruh aspek kehidupan, dan juga agama yang telah diridhai Allah swt, melalui firmanNya :

“Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah adalah Islam.” (QS. Ali Imran : 19)

Kemudian untuk tetap menjaga identitas kita, ditengah hiruk pikuk serangan sekulerisme, yang memaksa kita menjauhkan islam dari kehidupan. maka solusinya adalah tetap menjaga keimanan kita, dengan cara mengikuti kajian islam, senantiasa membaca artikel islami, video islami dari ustad-ustad yang luas keilmuannya, sehingga dengan begitu kita akan bisa menjaga identitas keislaman kita. Bahkan bukan hanya menjaga, dengan demikian kita dapat meningkatkan keimanan kita, sehingga lebih semangat dalam mengkaji islam, meskipun banyak halang dan rintang yang siap menghadang.

4. Memantaskan diri
Setelah kita menyadari bahwa agama yang kita pilih sebagai jalan hidup kita adalah islam, maka pantaskan diri kita sebagai pemeluknya. pantaskan diri kita bahwa kita benar-benar pantas untuk memperbaiki, serta menilai diri dari sudut pandang islam. sebab islam adalah pandangan hidup yang dapat melahirkan jalan hidup. jika kita memandang semuanya dengan islam, begitupula memandang serta menilai diri kita dengan islam, maka jalan hidup kita tidak lain adalah islam. maka, pantaskan diri kita untuk melaksanakan segala perintahNya, serta menjauhi segala laranganNya.
Pantaskan bahwa kita pengikut Nabi Muhammad SAW, yang mana beliau adalah sosok manusia pilihan, kekasihNya, yang mendakwahkan islam keseluruh penjuru dunia. yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. sosok yang begitu dirindukan, bahkan berabad-abad setelah kematiannya.

Maka, dalam proses menilai diri sendiri ini selayaknya kita kemudian memperbaiki diri, mengikuti akhlak Rasul SAW sedikit semi sedikit. meski hal itu begitu sulit. bagaimanapun kita harus berusaha menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan kita, dalam berbagai hal, dari hubungan dengan keluarga, sampai dengan ruanglingkup yang lebih luas seperti memimpin negara.

5. Mulai melangkah perbaiki diri
Tidak adagunanya jika kita hanya berdiam diri, meratapi perbedaan sifat yang lahir dalam diri kita, ataupun hanya sebatas memahami 4 point di atas yang kemudian hanya berdampak pada keinginan menjadikan Nabi SAW sebagai tauladan tapi tidak ada action-nya, tidak ada geraknya.

"Mulailah perubahan dari hal kecil yang mudah dilakukan, sesederhana ramah kepada setiap orang dengan menebar senyuman." (Umar bin Khattab r.a)

Ucapan sayyidina Umar bin Khattab memang luar biasa, jika diresapi didalamnya sarat akan makna yang begitu luas. yang sangat bermanfaat untuk kita semua yang ingin memperbaiki diri. karena setelah kita faham terhadap 4 point sebelumnya, jika harus memiliki motivasi kuat untuk merealisasikan keinginan kita untuk meneladani Rasulullah SAW. dan ucapan sayyidina Umar bin Khattab ini sangat cocok untuk menjadi pelecut, atau pendorong semangat kita dalam merubah pola sikap kita. mulailah dari hal yang terkecil. perbaiki hubungan dengan sesama, Insya allah kita akan bisa menilai dan merubah diri kita secara perlahan, sebelum kita menilai buruk oranglain. Bahkan mungkin setelah kita menjalankan 5 Tips ini, tidak ada lagi ruang bagi kita untuk menilai oranglain, karena hati kita penuh dengan penilaian-penilaian terhadap diri kita sendiri. Insya allah..

 

Kita butuh cinta

11/15/2017 1 Comment
-Guntur Mahesa Purwanto | Islamic Teens Inspirators-

kita-butuh-cinta-jurnal-kehidupan

Sehebat apapun kita berpaling terhadap CINTA , pada akhirnya kita pasti membutuhkannya.

Contoh, lelaki kekar, tegas, disiplin, berani, tangguh, dan sebagainya. pasti akan luluh juga ketika ia merasakan hadirnya cinta pada dirinya.

Permasalahan tentang hal ini adalah ketika ia tidak tahu, hilang arah bahkan tidak mau tahu ketika islam mengarahkan para penganutnya bagaimana aplikasinya.

Orang-orang yang sedang galau, gelisah atau sedang kasmaran di sosmed, dan sebagainya. Secara psikologis, mungkin dirinya memerlukan yang namanya bimbingan, bukan hujatan. Karena era sekarang itu, sosmed itu sudah menjadi DIARY.

Coba kawan-kawan jujur saja, dahulu ketika masih tahun 90-an bahkan jauh sebelumnya, tulisan itu adalah wakil dari gundahnya perasaan. Memang tidak semua orang seperti itu, tapi ini adalah argumen dari mereka-mereka yang bersikap demikian.

Memang, terkadang juga di antara kita ada yang geli ketika membaca atau membahas masalah seperti ini, bahkan risih. Itu sih kembali pada masing-masing, yang pasti ketika kita juga terlalu aneh dengan perasaan baper yang sudah over load (apalagi di sosmed), secara tidak sadar kita juga telah menjatuhkan wibawa kita.

Tapi bagi kamu yang merasa jangan sedih dan sakit hati, tetaplah perbaiki diri, biarlah setiap kesalahan adalah guru bagi kita agar senantiasa lebih baik lagi, kawan.

Berkacalah, kemudian senyumlah pada dirimu yang cantik/ tampan itu

SENJA BERJINGGA : Ketika Matahari Tenggelam

10/29/2017 Add Comment
Oleh Megita Rubiana Sabella

senja-berjingga-ketika-matahari-tenggelam-jurnal-kehidupan

Rasanya sudah terlampau jauh aku menjadikannya sebagai seseorang yang terus aku pikirkan selama tiga tahun di SMA. Hanya karena aku merasa bahwa sikapku ini kurang baik terhadap perasaannya. Seseorang pernah berkata padaku bahwa untuk seorang gadis yang sedang di sukai oleh orang lain, sikapku ini terlalu acuh. Meski sedikit kutepis prasangka itu, namun sepertinya aku memang harus lebih menghargai dia yang pernah menyatakan perasaannya padaku. Semua ini berawal saat aku duduk di bangku kelas satu, ketika bel pulang berbunyi, semua teman-temanku sudah pulang namun Tio menahanku. “Aku menyukaimu, Olive.” Ditengah langit berhias jingga, dia mengatakan kata-kata itu padaku. Aku terkejut, lidahku kelu, jantungku berdetak tak karuan. Perasaanku berteriak untuk segera menjawab pernyataannya itu. Namun jauh dalam lubuk hatiku, terdengar suara lirih yang membuatku tertegun.

Jika kamu menerimanya, kamu dan dia akan menjalin sebuah hubungan berpacaran. Siapkah dirimu menjadi seorang perempuan yang akan menjalin hubungan dengan laki-laki yang sama sekali tidak kamu kenal? Bukankah perihal cinta dan kasih sayang itu biasanya mereka persiapkan untuk dirinya di masa depan? Lalu bagaimana kamu akan menjelaskan hubunganmu ini nanti? Dan untuk menikah, kamu bahkan belum bisa menyelesaikan tugas sekolahmu dengan baik. Ini bukan saatnya membicarakan cinta, kasih sayang apalagi sebatas perasaan yang terkadang hilang begitu saja.

Kamu masih menolak? Baiklah, mungkin jika Tuhanmu yang memerintahnya mungkin kamu akan menerimanya. Roda kehidupan dunia yang kamu jalani tak lepas dari pengawasan-Nya, kamu tidak akan bahagia jika melanggar perintah-Nya. Bahkan untuk mengutarakan perasaan cinta, jika tak kamu utarakan dengan cara yang benar menurut pandangan-Nya, maka kamu akan tergelincir oleh kebahagiaan dunia yang tak lebih dari ilusi semata.

Aku menghela napas, entah siapa yang mengatakan semua hal itu padaku. Namun hatiku tak bisa menyangkalnya bahwa aku memang tidak bisa menerima pernyataan ini. Terlalu cepat untuk memulai sebuah hubungan percintaan, terlebih dengan hubungan seperti ini akan membuatku semakin tak bisa bebas melakukan hal apapun. Kekasih? Siapa dia? Mungkin perihal jodoh adalah kuasa Allah, tapi tekadku mengatakan bahwa tidak ada kebahagiaan yang bisa didapatkan dari kemaksiatan. Bismillah, aku akan menolaknya.

“Sebelumnya terima kasih atas pernyataanmu, Tio, aku lebih suka kamu menyukaiku daripada membenciku, tapi untuk selebihnya aku tidak bisa melakukan apapun. Suka dan tidak suka hanyalah sebuah kata-kata, maka kupikir aku menyukaimu, menurut pemikiranku.” Kusudahi pembicaraan empat mata ini dan meninggalkan Tio. Sejak saat itu aku terus memikirkan apakah Tio akan mengerti atau tidak.

Setelah pernyataannya itu, aku dan Tio berteman seperti biasa sampai saat kelas tiga ini. Bahkan komunikasi antara kami berdua masih sama seperti dulu. Seperti tak terjadi apapun, meskipun aku yakin bahwa tidak ada penolakan yang halus, tak membekas sedikitpun, namun aku percaya bahwa ini adalah yang terbaik. Bahkan setelah itu aku dan Tio sering bertemu dalam satu kelompok pelajaran, tentu kami berdua banyak berdiskusi.

“Kamu menolak Tio, tapi Tio bahkan tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Dia masih menyukaimu, Olive.” perkataan Lala saat jam istirahat di sebuah kantin itu sedikit membuatku terkejut, karena sepenglihatanku Tio sepertinya sudah tak ada perasaan lagi denganku.

“Dan kamu Olive, sikapmu itu terlalu kejam untuk dia! Tidak bisakah kamu sedikit tersenyum ketika Tio melihatmu?” Ufa menambahkan, aku semakin terpojok saat itu. “Aku hanya bersikap biasa kepada Tio, kurasa Tio pun bisa menerimanya. Aku tidak mau dia merasa memiliki harapan apapun, aku hanya ingin dia menyadari bahwa hubungan berpacaran bukanlah cara melampiaskan perasaan yang tepat.”

Ufa dan Lala menghela napas panjang, aku bingung dengan mereka berdua. “Kamu itu terlalu kaku, Olive. Anak muda jaman sekarang itu sudah biasa dengan pacaran.” tegas Ufa.

“Iya betul, aku dan Ufa juga sudah punya pacar sekarang, kenapa kamu tidak menerima Tio saja? Setelah itu kita bisa berbagi pengalaman tentang hubungan berpacaraan kita bertiga kan?” Aku hanya tersenyum mendengar pendapat dari teman-teman yang memang sangat dekat denganku sejak kelas satu SMA.

“Maaf aku tidak bisa seperti kalian, aku hanya mempunyai pemikiran yang berbeda tentang hubungan ini. Aku ingin langsung menikah.” Lala dan Ufa tiba-tiba menatap tajam kearahku. “Kita masih kelas tiga SMA, Olive sadar! Kamu mau nikah muda?” Aku tertawa kecil. “Bukan sekarang maksudnya, tapi nanti kalau sudah ada calonnya. Untuk pacaran, aku tidak terlalu tertarik dan juga..“

“Dilarang oleh agama?” Ufa memotong pembicaraanku.

“Eh?” Aku melihat kearah Ufa.

“Iya, aku mengerti kok. Mungkin seharusnya aku yang mengikuti kamu, bukannya memaksamu untuk sama seperti kita berdua. Maaf, Olive, aku belum bisa sepertimu.” Suara Ufa terdengar lirih. “Aku dan Dani sudah berpacaran selama dua tahun, aku terlalu naif jika harus memutuskannya sekarang. Untuk jadi sepertimu itu sulit Olive.” Lala menundukkan pandangannya, aku tersenyum. Entah kapan mereka berdua menyadari bahwa cahaya Allah sudah terpancar dari dalam hati mereka berdua. Aku selalu mendo’akan mereka berdua untuk segera keluar dari lingkaran kegelapannya. Aamiin.

“Semangat! Nanti, kalau kalian berdua putus dengan pacar kalian, hubungi aku ya?” Aku tertawa kecil.

“Olive kejam!!” Aku tertawa bersama mereka berdua, rasanya indah sekali jika bersama-sama dengan mereka. Meskipun aku dan mereka tak satu pemikiran, tapi aku dapat memahami bahwa sebenarnya mereka menyadari apa yang mereka lakukan. Ini hanya masalah waktu, kapan mereka bisa meredam ego dalam hati dan menerima fitrah mereka sebagai seorang manusia yang ingin selalu dihargai perasaannya.

Hari-hari berikutnya, aku tak bisa membayangkan bahwa hubunganku dan Tio setelah pernyataannya itu akan menjadi serumit ini. Terlebih Ufa dan Lala terus memarahiku karena sikapku terlalu acuh terhadap Tio. Aku seperti seseorang yang tidak bisa menghargai perasaan orang lain, aku bingung. Kuambil cara paling tepat yaitu dengan sedikit lebih sering berbicara dengan Tio, meskipun dalam lingkup diskusi ketika belajar saja, karena aku tidak bisa melakukannya lebih dari itu. Semakin lama, aku merasa bahwa aku sering memikirkan Tio. Bukan karena aku mulai menyukainya, tapi karena mengkhawatirkannya. Tentang apakah sikapku ini tidak membuatnya sakit hati atau tidak? Atau tentang apakah sebenarnya dia sudah tidak memiliki perasaan lagi padaku? Jika benar, aku ingin mengetahuinya lebih awal, agar aku bisa menjalani kehidupanku seperti dulu lagi, tak lagi terikat dengan perasaan orang lain.

“Sudah kubilang kalau Tio itu masih menyukaimu! Lihat saja dari sikap dan tatapan matanya! Kamu itu tidak percaya sekali padaku!” Ufa menceramahiku begitupun dengan Lala.

“Aku takut semua itu hanya prasangka kalian saja.”

“Aku yakin seratus persen, Olive!” Dengan cepat kuambil kesimpulan bahwa Tio masih menyukaiku, meskipun aku masih ragu. Jika benar begitu, aku harus lebih memperhatikan sikapku agar tidak menyakiti Tio. Kutekadkan semua ini dalam hatiku.

Keesokan harinya, hujan pun mulai turun ketika jam istirahat. Sayangnya aku tidak membawa payung hari itu. Saat bel pulang berbunyi, aku hendak menunggu hujan reda di dalam kelas setelah Lala dan Ufa pamit untuk pulang karena mereka berdua pulang satu arah, kupikir hanya aku saja yang belum pulang, ternyata seorang laki-laki yang mendadak saja membuatku terkejut masuk ke dalam kelas.

“Olive?”

“Tio?” Ternyata Tio masih ada kegiatan ekstrakurikuler. Kikuk, itu pasti. Aku tidak berniat untuk membicarakan apapun, terlebih hanya aku dan Tio saja yang berada di dalam kelas itu, rasanya aku ingin cepat pulang karena takut terjadi hal yang di luar dugaanku. Tio duduk dibangkunya, aku semakin bingung dengan keadaan seperti ini. Hujan di luar mulai mereda, tak habis pikir lagi, aku pun segera beranjak dari tempat dudukku dan pergi meninggalkan Tio. Namun belum juga aku keluar melewati pintu kelas, Tio memanggilku. “Olive, tunggu!” Jantungku berdegup kencang. “Ada apa?” Aku menoleh.

“Sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu.”

“Apa itu?”

“Aku masih menyukaimu dan akan selalu menyukaimu. Mungkin semua ini terdengar konyol, karena kamu sudah menolakku dulu. Tapi aku benar-benar tidak akan bisa bersama dengan perempuan lain.” Saat itu aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kudengar.

“Terima kasih, aku yakin kamu mengatakan itu sebagai seorang teman. Aku pulang duluan ya.” Tio tersenyum, aku pun segera pergi meninggalkannya. Namun tetap saja, dengan begitu aku harus bisa lebih menjaga sikap dan jarak terhadap Tio. Meskipun sulit, akan kuusahakan untuk tetap bersikap seperti biasa saja.

Lagi-lagi setelah Tio mengatakan hal itu padaku, aku lebih sering memikirkannya. Rasanya tak karuan, tak bisa kujelaskan dengan rinci tentang apa yang selalu aku pikirkan. Tapi benang merahnya aku sudah paham. Aku tidak bisa melakukan apapun dengan perasaan Tio padaku, tapi aku tidak ingin menyakitinya juga. Sungguh dilema, tapi untuk menerimanya sekalipun itu bukan pilihan yang tepat. Aku hanya berharap suatu saat waktu akan memberiku jawaban yang jelas tentang apa yang sebenarnya harus kulakukan.

Keesokan harinya, suasana kelas menjadi gaduh. Aku belum bisa menemukan penyebab kegaduhan ini, namun tiba-tiba kudengar nama Tio.

“Tio dan Putri sudah berpacaran selama dua minggu.” Aku terkejut sekaligus bingung dengan berita yang membuat gaduh kelasku. Entah hanya berita palsu ataupun memang benar adanya aku ingin mengetahui yang sebenarnya. Karena jelas hal ini membuatku semakin bingung, terlebih kemarin Tio mengatakan dengan tegas tentang perasaannya, rasanya tak ada yang bisa kupercayai saat ini.

Dengan berita yang beredar itu, aku semakin memikirkan Tio. Ingin kutanya padanya tentang semua yang membingungkan ini, tapi untuk apa? Jika benar Tio sudah tak ada lagi perasaan padaku, bukankah lebih bagus? Aku tidak harus lagi memikirkan bagaimana aku harus bersikap. Namun, hidup di tengah keragu-raguan dan ketidakjelasan seperti ini memang tidak menyenangkan.

Sepertinya Allah mengetahui isi hatiku saat ini, tentang kejelasan dan kesimpulan dari semua ini. Dengan takdir Allah, waktu menuntunku pada sebuah kejelasan yang sudah cukup membuatku mengerti. Di bawah langit yang sama, dengan hiasan jingga yang bertaburan di atas langit, aku melihat Tio dan Putri melintas dihadapanku. Tangannya menggenggam tangan Putri, bibirnya tak habis-habisnya tersenyum, lalu tertawa bersama. Dia, Tio, laki-laki yang mengatakan padaku bahwa akan selalu menyukaiku beberapa hari yang lalu kini berjalan dengan bahagianya bersama perempuan lain. Sebenarnya bukan tentang bagaimana perasaanku melihat mereka berdua, tapi tentang bagaimana aku merasa bersyukur atas pilihanku dulu. Lala dan Ufa tak henti-hentinya menghiburku seolah-olah aku merasa sedih dengan semua hal ini. "Aku tidak apa-apa, bukankah sejak awal aku sudah menolaknya?"

"Aku pikir Tio masih menyukaimu, Olive, jadi aku berusaha untuk terus mendukungmu dengan dia." Aku hanya tersenyum. "Aku pun berpikir begitu, karena sikap Tio kepadamu seperti seseorang yang jatuh cinta, jadi.."

"Sudah, tidak apa-apa. Semuanya sudah berakhir, aku senang jika Tio tidak ada perasaan lagi padaku, dengan begitu aku tidak usah memikirkan bagaimana perasaannya lagi, aku bahagia dengan semua ini. "Aku tidak bisa mengatakan kepada mereka berdua bahwa sebenarnya Tio telah mengatakan padaku bahwa dia memang masih menyukaiku dan bahkan memperjelas perkataannya bahwa dia akan selalu menyukaiku. Aku tersenyum, bahkan terkadang tertawa tentang apa yang sebenarnya terjadi. Rasanya bodoh sekali jika selama ini sibuk memikirkan bagaimana perasaan Tio, tentang bagaimana aku harus bersikap agar tidak membuat Tio sakit hati dan lain sebagainya. Aku menyibukkan diri dengan memikirkan perasaan orang lain, bahkan mungkin dia tidak pernah memikirkan itu. Namun semuanya telah terskenario dengan baik, Allah menuntunku pada sebuah kenyataan yang begitu memukulku. Bahwa jika aku memang sudah bertekad untuk menolaknya, maka pembahasannya tidak akan seperti ini. Cukup dengan pembatas, perasaan Tio adalah perasaan Tio dan perasaanku adalah perasaanku. Hanya itu, karena luka dalam hati tak ada seorang pun bisa menghindari, maka terlalu egois untukku berusaha agar Tio tidak sakit hati dengan sikapku. Meskipun dipenglihatanku, Tio seolah-olah mendorongku ke dalam jurang perasaannya, lalu meninggalkanku sendirian seakan tak ada pilihan selain masuk ke dalam jurang perasaan itu. Namun, sinar matahari di senja kala itu membuatku sadar tentang jurang perasaan yang Tio buat dan dengan tenggelamnya matahari pada sore hari itu sinarnya mengiringi langkahku untuk pergi menjauh. Hingga sampai esok pagi aku bisa menjalani kehidupanku seperti dulu lagi.

Seminar OMA | One Minutes Awareness

10/26/2017 Add Comment
Syukron Fadillah | Ilmu Hadist | semester 1 | IAIN Syekh Nurjati Cirebon

seminar-OMA-jurnal-kehidupan

Seminar yang sangat luar biasa, satu menit yang bisa merubah nasib. awalnya sih agak kurang percaya. apa bisa satu menit merubah nasib? dan ternyata sungguh keajaiban, saya di ajak mengembara pada moment yang telah berlalu tepat di penghujung tahun 2016, yaitu ketika wafatnya ibu saya.

saya di sadarkan tentang betapa pentingnya kita merubah nasib atau masa depan dengan hanya satu menit. dan satu menit itu bisa berupa perkataan orang tua, guru, sahabat, kyai, dst. sungguh luar biasa saya menjadi teringat kembali akan motivasi kuliah saya mengambil ilmu hadist.

yah saya mengambil ilmu hadist sebab dilatar belakangi oleh wafatnya ibu saya, dan saya ingin memberikan yang terbaik untuknya di surga, yaitu mahkota dan jubah kebesaran.

memang dulu ketika semasa hidup ibu, saya sering berlaku kasar terhadapnya, tak patuhi perintahnya, bahkan terkadang tak segan bersikap keras kepadanya.

namun ketika beliau telah tiada, dengan pelukan terakhirnya yang saya rasakan, itu menjadi moment untuk saya bersikap lebih baik dan memberikan yang terbaik untuknya, sebab saya tak sempat meminta maaf di dunia. maka akan saya berikan hadiah terbaik di akhirat.

terlebih ketika mengikuti seminar ini, ada sebuah kata-kata yang sangat jelas terngiang dalam telinga ini, yang membuat pikiran saya tertuju pada setiap energi positif yang terenkripsi pada kalimat itu.

"Orang gagal memiliki banyak alasan
sedangkan orang sukses hanya memiliki satu alasan
yaitu, tidak ada alasan"
-Nanang Qosim Yusuf-

maka saat itu pula saya bertekad untuk membuat satu alasan saja agar saya menjadi sukses, yaitu "tidak ada alasan" sebab merintis tangga kesuksesan itu dilihat dan dinilai dari seberapa kita bangkit, bukan dari seberapa kita jatuh.

terimakasih pada pak Nanang Qosim Yusuf (NAQOY) yang telah mengingatkan saya pada tujuan saya kuliah, dan telah memberikan berbagai motivasi yang berharga khususnya bagi saya untuk meniti tangga-tangga kesuksesan.