Showing posts with label yuk hijrah. Show all posts
Showing posts with label yuk hijrah. Show all posts

Cinta yang Ternoda

2/05/2019 Add Comment
cinta-yang-ternoda-jurnal-kehidupan
Ma'had Nurul Falah - Selasa 5 Februari 2019, Lembaga Dakwah Sekolah mengadakan acara Kajian Islam Remaja #edisi14 yang mengupas tentang "Valentine day" dimana para remaja dan pelajar indonesia terkadang latah untuk ikut-ikutan peristiwa yang sedang tren, dan masalahnya tren budaya valentine masih berkembang masif meskipun di negeri-negeri yang mayoritas muslim. hal ini disebabkan oleh ideologi sekulerisme yang menghasilkan pola sikap individualisme sehingga lahirlah paham memisahkan agama dari kehidupan. hal ini sangat berbahaya bagi keberlangsungan negeri ini. pasalnya kitalah yang akan menjadi pemimpin masa depan, bagaimana jadinya jika negeri ini dipenuhi oleh remaja yang rusak karena pergaulan bebas, sungguh mengerikan.

oleh karena itu lembaga dakwah sekolah kemudian mengadakan event Kajian Islam Remaja ini sebagai bentuk kepedulian terhadap generasi bangsa, dan terhadap generasi islam. LDS memahami bahwa persoalan remaja islam adalah persoalan yang urgent, karena dipundak merekalah islam akan bangkit, islam akan berjaya, dan islam akan memimpin dunia. acara ini diisi oleh dua pemateri yakni Kak Syukron dan Kak Guntur. Sebagai pemateri pertama kak syukron memaparkan fakta-fakta remaja akibat pergaulan bebas (dalam hal ini pacaran) yang beliau rangkum dari facebook Indonesia Tanpa Pacaran dengan jangka waktu 1 bulan lebih ini, yakni dari awal bulan januari sampai tepat hari ini. berikut adalah fakta mencengangkan yang kak syukron paparkan pada acara ini:
cinta-yang-ternoda-jurnal-kehidupancinta-yang-ternoda-jurnal-kehidupan cinta-yang-ternoda-jurnal-kehidupan
cinta-yang-ternoda-jurnal-kehidupancinta-yang-ternoda-jurnal-kehidupan cinta-yang-ternoda-jurnal-kehidupan
cinta-yang-ternoda-jurnal-kehidupancinta-yang-ternoda-jurnal-kehidupan cinta-yang-ternoda-jurnal-kehidupan
cinta-yang-ternoda-jurnal-kehidupancinta-yang-ternoda-jurnal-kehidupan cinta-yang-ternoda-jurnal-kehidupan
Fakta diatas merupakan fakta-fakta terbaru diawal tahun 2019, sungguh mengerikan pergaulan remaja yang jauh dari islam, yang tidak mau dibimbing serta diarahkan oleh islam. hasilnya, rusaklah generasi penerus bangsa ini. kak syukron memaparkan bahwa fakta diatas adalah buah dari pacaran, sedangkan valentine day adalah muara kemaksiatan bagi orang yang pacaran. jika tanpa pacaran saja sudah sangat terlihat begitu rusaknya, apalagi pada malam valentine day, yakni malam pergaulan bebas. Ustad Alwi juga mennuturkan dalam sambutannya bahwa setiap tahun menjualan alat kontrasepsi meningkat, terutama seminggu sebelum dan sesudah valentine day, fakta ini juga sangat mengerikan bagaimana mungkin negeri ini bisa menjadi negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur jika generasi penerusnya, para pemimpin masa depannya rusak oleh pergaulan bebas, yakni buah dari sekulerisme.

Langkah LDS dalam menyikapi perkara ini sangat tepat sekali, membuat forum yang fresh tidak boring, dan tentunya dengan konsep training motivasi luar biasa, inilah andil LDS dalam kepedulian terhadap generasi remaja islam untuk mencegah pergaulan bebas, berikut dokumentasi Kajian Islam Remaja "Cinta yang ternoda" :

cinta-yang-ternoda-jurnal-kehidupan
cinta-yang-ternoda-jurnal-kehidupancinta-yang-ternoda-jurnal-kehidupan
cinta-yang-ternoda-jurnal-kehidupancinta-yang-ternoda-jurnal-kehidupan
cinta-yang-ternoda-jurnal-kehidupancinta-yang-ternoda-jurnal-kehidupan
cinta-yang-ternoda-jurnal-kehidupancinta-yang-ternoda-jurnal-kehidupan
cinta-yang-ternoda-jurnal-kehidupan
cinta-yang-ternoda-jurnal-kehidupancinta-yang-ternoda-jurnal-kehidupan
Insyaallah dengan banyaknya acara kajian islam seperti ini akan bisa menumbangkan pergaulan bebas, karena dengan kajian islam remaja akan dibimbing untuk faham terhadap ajaran islam yang kemudian islam akan menjadi pola pikir, sehingga ketika pola pikirnya islami maka akan melahirkan pula pola sikap yang islami.

Lembaga Dakwah Sekolah, dan Dakwah Remaja siap berkomitmen untuk membimbing remaja islam agar paham jatidirinya sebagai muslim dan menjaga pergaulan mereka dari pergaulan bebas yang hari ini marak terjadi. Insyaallah kedepannya kajian islam remaja akan rutin diadakan kembali agar lebih dekat dengan dunia remaja, sebab dengan memahami dunia remajalah kita bisa mendakwahkan islam kepada mereka secara mudah.

Tips menilai diri sendiri

1/28/2019 Add Comment
tips-menilai-diri-sendiri-jurnal-kehidupan

"Hisablah dirimu sebelum dirimu sendiri dihisab, dan timbanglah amal perbuatanmu sebelum perbuatanmu ditimbang." (Umar bin Khattab r.a)

Ungkapan sayyidina Umar bin Khattab di atas agaknya tepat sekali untuk membuka pembahasan kita tentang menilai diri sendiri. kita faham bahwa menilai diri sendiri tidaklah mudah. bahkan yang terjadi adalah, kita dengan mudah menilai oranglain. bahkan tak segan penilaian kita sangat subjektif, hasilnya kerapkali kita menilai buruk oranglain. parahnya orang tersebut adalah orang-orang yang dekat dengan kita, bahkan bisa jadi mereka yang selalu mendukung perjuangan kita untuk meraih cita-cita. sungguh mengerikan.

Sebelum membaca lebih jauh, agaknya harus difahami terlebih dahulu bahwa artikel ini tidak menunjuk person to person, jadi maaf bila artikel ini membuat beberapa hati menjadi sakit karenanya. bahkan sejatinya artikel ini dibuat untuk penulis sendiri. untuk menjadi pengingat diri atau self reminder. semoga pembaca semua memahami sudut pandang artikel ini, aamiin ya rabbal'alamiin.

1. Bercermin diri
Langkah pertama adalah bercermin diri, maksudnya bukan bercermin secara harfiah, lebih dari itu kita harus bisa melihat ke arah diri kita. coba lihat diri kita, sejatinya kita ini memiliki sisi positif dan sisi negatif. kedua sisi ini sebenarnya cuma kita pribadi yang tahu, oranglain hanya meraba-raba, menilai dari yang sekedar terlihat. kita bisa melihat kedua sisi ini dengan tampak nyata jika dihadapkan dengan kesepian, kesendirian, atau kesunyian yang kemudian dibandingkan dengan penilaian oranglain secara harfiah kepada kita.

Jika kita dinilai sebagai sosok yang baik, berakhlak mulia oleh orang-orang terdekat kita, bahkan mereka tidak segan menggantungkan kepercayaan kepada kita. Namun ketika kita masih bisa berfikir kotor, atau bahkan berbuat maksiat ketika dihadapkan dengan kesendirian, atau kesunyian, berarti itulah sosok asli kita. sosok yang kontradiktif dengan penilaian oranglain. maka, solusinya adalah sesali, dan segera bertaubat. selagi pintu taubat masih terbuka kemudian perlahan merubah sifat tersebut.

2. Islam sebagai tolak ukur
Seperti yang kita ketahui, islam bukanlah agama yang hanya mengatur ibadah ritual, atau ibadah mahdah saja. tapi islam mengatur segalanya, islam mengatur kehidupan. mengatur hidup kita dari bangun tidur sampai tidur lagi. sehingga, dalam menilai diripun, seharusnya islamlah yang menjadi tolak ukur. sebab islam menilai hubungan kita dengan Allah swt sebagai ibadah yang bersifat vertikal, menilai juga hubungan kita dengan sesama serta lingkungan sebagai ibadah yang bersifat horizontal, dan terakhir menilai hubungan kita dengan diri kita sendiri.

Hubungan dengan diri sendiri ini harus berlandaskan dengan kepribadian islam. sebab, jika tidak berlandaskan islam maka tidak akan berdampak baik, justru sebaliknya akan menghasilkan dua sifat yang berbeda pada diri kita. sederhananya, baik dihadapan oranglain, tidak merugikan oranglain adalah baik, meskipun ketika kita sendiri terkadang kita menyakiti diri sendiri, tapikan kita tidak menyakiti oranglain. sehingga hal ini baik. inilah yang dihasilkan ketika kita menjadikan selain islam sebagai tolak ukur. tapi sebaliknya, jika kita menjadikan islam sebagai tolak ukur.

Islam menilai bahwa berbohong, atau menyakiti diri sendiri adalah perbuatan buruk, apalagi menyakiti oranglain. sehingga jika terjadi sikap perilaku yang menunjukan kita mendzolimi diri sendiri, maka kita harus faham bahwa mendzolimi diri sendiri adalah dosa, tidak boleh dilakukan. artinya kita harus segera sadar bahwa kita ini seorang muslim, dimana setiap sikap perilaku kita terikat dengan hukum syara'.

3. Fahami identitas diri
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, kita harus sadar bahwa identitas kita adalah seorang muslim. dimana setiap aktivitas kita terikat dengan hukum syara', yakni halal, sunah, mubah, makruh, serta haram. apalagi kita memahami betul bahwa islam adalah agama yang komplit, lebih komplit dari pada jamu komplit mengatur seluruh aspek kehidupan, dan juga agama yang telah diridhai Allah swt, melalui firmanNya :

“Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah adalah Islam.” (QS. Ali Imran : 19)

Kemudian untuk tetap menjaga identitas kita, ditengah hiruk pikuk serangan sekulerisme, yang memaksa kita menjauhkan islam dari kehidupan. maka solusinya adalah tetap menjaga keimanan kita, dengan cara mengikuti kajian islam, senantiasa membaca artikel islami, video islami dari ustad-ustad yang luas keilmuannya, sehingga dengan begitu kita akan bisa menjaga identitas keislaman kita. Bahkan bukan hanya menjaga, dengan demikian kita dapat meningkatkan keimanan kita, sehingga lebih semangat dalam mengkaji islam, meskipun banyak halang dan rintang yang siap menghadang.

4. Memantaskan diri
Setelah kita menyadari bahwa agama yang kita pilih sebagai jalan hidup kita adalah islam, maka pantaskan diri kita sebagai pemeluknya. pantaskan diri kita bahwa kita benar-benar pantas untuk memperbaiki, serta menilai diri dari sudut pandang islam. sebab islam adalah pandangan hidup yang dapat melahirkan jalan hidup. jika kita memandang semuanya dengan islam, begitupula memandang serta menilai diri kita dengan islam, maka jalan hidup kita tidak lain adalah islam. maka, pantaskan diri kita untuk melaksanakan segala perintahNya, serta menjauhi segala laranganNya.
Pantaskan bahwa kita pengikut Nabi Muhammad SAW, yang mana beliau adalah sosok manusia pilihan, kekasihNya, yang mendakwahkan islam keseluruh penjuru dunia. yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. sosok yang begitu dirindukan, bahkan berabad-abad setelah kematiannya.

Maka, dalam proses menilai diri sendiri ini selayaknya kita kemudian memperbaiki diri, mengikuti akhlak Rasul SAW sedikit semi sedikit. meski hal itu begitu sulit. bagaimanapun kita harus berusaha menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan kita, dalam berbagai hal, dari hubungan dengan keluarga, sampai dengan ruanglingkup yang lebih luas seperti memimpin negara.

5. Mulai melangkah perbaiki diri
Tidak adagunanya jika kita hanya berdiam diri, meratapi perbedaan sifat yang lahir dalam diri kita, ataupun hanya sebatas memahami 4 point di atas yang kemudian hanya berdampak pada keinginan menjadikan Nabi SAW sebagai tauladan tapi tidak ada action-nya, tidak ada geraknya.

"Mulailah perubahan dari hal kecil yang mudah dilakukan, sesederhana ramah kepada setiap orang dengan menebar senyuman." (Umar bin Khattab r.a)

Ucapan sayyidina Umar bin Khattab memang luar biasa, jika diresapi didalamnya sarat akan makna yang begitu luas. yang sangat bermanfaat untuk kita semua yang ingin memperbaiki diri. karena setelah kita faham terhadap 4 point sebelumnya, jika harus memiliki motivasi kuat untuk merealisasikan keinginan kita untuk meneladani Rasulullah SAW. dan ucapan sayyidina Umar bin Khattab ini sangat cocok untuk menjadi pelecut, atau pendorong semangat kita dalam merubah pola sikap kita. mulailah dari hal yang terkecil. perbaiki hubungan dengan sesama, Insya allah kita akan bisa menilai dan merubah diri kita secara perlahan, sebelum kita menilai buruk oranglain. Bahkan mungkin setelah kita menjalankan 5 Tips ini, tidak ada lagi ruang bagi kita untuk menilai oranglain, karena hati kita penuh dengan penilaian-penilaian terhadap diri kita sendiri. Insya allah..

 

Bersujudlah

1/12/2019 Add Comment

bersujudlah-jurnal-kehidupan

Wahai sahabat sahabatku...
Memanglah dunia itu penuh dengan permasalahan...
Penuh kekecewaan...
Penuh penderitaan...

Semua itu datang tak terduga dan tak pernah kita menginginkannya.

Kitapun menginginkan masalah itu dapat terselesaikan,
Kekecewaan dapat terobati,
Penderitaan dapat terhenti,

Namun hal itu tak mudah untuk kita hadapi...

Lantas mengapa engkau merasa mampu mengadapi?

Wahai sahabat sahabatku...
Jika engkau tak mampu mengadapi masalah yang selalu hadir dalam hidupmu, bukan kah engkau mempunyai illahi rabbi yang selalu ada di dalam suka duka pada diri, Dialah Allah yang dengan Rahman-nya engkau dikasihi dan dengan Rahim-nya engkau disayangi...

Bersujudlah pada-Nya dan tuangkan permasalahanmu itu, katakanlah apa yang saat ini engkau rasa...

Allah akan mendengarnya, dan mintalah... Apa yang engkau ingin sebab Allah akan memberikannya.

Tak perduli seberapa besar dosa hambanya...
Tak perduli seberapa bejat hambanya...

Yang Allah tau engkau adalah Hambanya, selagi engkaupun mau kembali Menghadapnya..

Sudah kuputuskan

10/31/2017 3 Comments
Oleh Megita Rubiana Sabella

sudah-kuputuskan-jurnal-kehidupan

“Aku ingin kita berdua putus.”

“Hah? Maksudmu?” Malam ini udara di luar tidak terlalu dingin, tapi jari-jemariku mendadak menggigil. Gemetar, sesekali kuremas celana jeansku untuk menghilangkan rasa yang tak karuan ini. Jantungku semakin berdegup kencang ketika Rio, kekasihku, terus melontarkan pertanyaan demi pertanyaan yang sama kepadaku. “Hei, Mika! Coba jelaskan padaku!” Lidahku kelu. Rasanya sulit menjelaskan semua hal ini. Aku ingin putus dengan Rio, karena hubungan ini memang permainan. Aku ingin mengatakan ini kepadanya. Namun kegelisahanku mengalahkan semuanya.

“Dasar! Aku sedang bercanda tadi. Hahaha.” Gelak tawa yang kureka sedemikian rupa agar Rio tidak melihat gerak-gerik kebimbanganku saat itu membuatku semakin sakit. Rasanya bukan hanya aku yang kebingungan malam itu, tapi Rio pun sepertinya merasakan hal yang aneh dari sikapku ini. “Aku tidak suka lelucon semacam ini, Mika.” Rio memalingkan muka nya. Hatiku semakin tak karuan. Sejak pertama aku sudah bimbang dengan pernyataanku untuk putus dengan Rio, namun dengan tanpa pikir panjang aku mengatakannya dengan jelas. Aku mencoba untuk meleburkan suasana dengan melemparkan candaan kepada Rio. Dia sedikit marah, namun bukan itu yang kupedulikan. Aku lebih marah kepada diriku sendiri yang tidak tegas ini. Aku sangat menyesal.

“Maafkan aku ya. Hubungan kita sudah cukup lama Rio, jadi aku berniat untuk sedikit memberikan candaan hangat. Kurang lebih begitulah.” Rio menekuk mukanya. Asam. Namun aku tidak peduli. “Tapi aku penasaran tentang pendapatmu jika aku benar-benar ingin putus denganmu bagaimana?” Rio melihat mataku dengan tatapan yang tajam. Namun sebisa mungkin aku bersikap santai meskipun saat itu degupan kencang menghampiriku lagi.

“Aku sudah bilang padamu, kalau aku tidak suka lelucon semacam ini.” Rio kekeh dengan perkataan sebelumnya. Aku menghela napas, mencoba mencari celah agar Rio bisa memberikanku sebuah gambaran ketika esok atau entah kapan aku bisa mengatakan bahwa aku akan putus dengannya.

“Aku bilang kan cuman penasaran. Tidak masalah kan kalau kamu hanya mengutarakan pendapat saja?” Kulihat Rio melirik kearahku. Aku tersenyum. Mencoba memastikan bahwa aku memang hanya penasaran saja, meskipun kenyataannya dengan pendapatnya itu aku bisa mengatur strategi baru untuk memutuskan Rio nanti.

“Ya sudah kalau kamu memaksa. Kalau kenyatannya tadi kamu memang ingin putus denganku, aku pasti akan marah.” Rio melipat tangannya, sepertinya dia ingin menunjukkan padaku bahwa saat itu ia serius dengan perkataannya.

“Rio, bukannya tadi juga kamu marah?”

“Ya! Tapi kalau kamu benar ingin putus denganku, aku akan marah lebih dari ini! Kita sudah berpacaran selama lima tahun, Mika! Coba kamu pikirkan tentang kisah kita bersama selama ini!” Aku bisa merasakan nada bicara Rio yang menggebu-gebu. Mencoba menjelaskan dan menyuruhku untuk berpikir kembali tentang keputusanku untuk putus dengannya. Namun nihil, semua perkataannya tadi hanyalah sebuah hembusan napas tanpa arti. Lima tahun berpacaran? Kenangan kita bersama? Akan lebih terasa menyakitkan lagi, jika hubungan ini terus berlanjut hingga berpuluh-puluh tahun namun tak ada kepastian untuk menikah. Usiaku saat ini 25 tahun dan usia Rio 29 tahun. Bukankah itu sudah cukup untuk membicarakan hal yang pasti? Seperti menikah. Bukan seperti ini. Menghabiskan waktu selama lima tahun mungkin akan berlanjut semakin lama lagi dengan bermain-main untuk membuat kenangan bersama. Apa artinya sebuah kenangan ketika semuanya harus kandas karena sebuah ketidakpastian. Aku ingin menikah.

“Oh begitu. Tapi Rio, bukankah lima tahun kita berpacaran itu sudah cukup?”

“Cukup? Maksudmu?”

“Ya, cukup, untuk.. menikah.” Suaraku mengecil. Aku menunduk melihat sepatu yang dipakai Rio. Rio belum juga menjawab perkataanku tadi.

“Aku belum siap.” Suara Rio melemah. Nada suara menggebu-gebu yang kudengar tadi rasanya hilang di telan waktu.

“Alasan yang klise.”

“Aku belum siap!” bentak Rio.

“Lalu kapan kamu akan siap?!” Tak terasa pipiku basah dengan air mataku yang mengalir deras. Pikiranku melalang buana ketika aku dan Rio merayakan hari jadi ketiga kita berdua berpacaran. Aku menanyakan hal yang sama kepada Rio. Kapan dia akan menemui ayahku, untuk melamarku. Mungkin bagi Rio saat itu usia hubungan kami masih muda. Tiga tahun berpacaran dia mengatakan masih belum cukup untuk ke jenjang yang lebih serius. Kuiyakan saja saat itu dan kuberi kepercayaanku pada Rio. Mungkin memang harus membutuhkan waktu untuk memantapkan hati menuju jenjang pernikahan, pikirku saat itu. Namun saat ini, niat baikku yang tertutup nafsu Rio sudah tak bisa kubendung lagi. Kenyataan yang sebenarnya bahwa aku ingin memutuskan hubungan ini dengan menikah tak bisa kutahan lagi.

Seminggu sebelum aku memantapkan hati untuk memutuskan hubunganku dengan Rio, aku bertemu dengan teman lamaku saat di SMA dulu, Kana. Aku bertemu dengan Kana di sebuah Mall saat aku sedang berbelanja sendirian. Betapa terkejutnya aku melihat Kana untuk pertama kalinya lagi setelah sekian lama tidak pernah bertemu. Aku dan Kana memang cukup dekat. Kami berteman sejak masuk bangku SMA, di kelas yang sama. Meski saat SMA dulu, aku dan Kana tidak pernah sama sekali membicarakan tentang laki-laki. Jujur saja, aku sungkan jika harus membicarakan laki-laki yang aku suka pada Kana. Dia tipe orang yang pendiam, pemalu, bukan, lebih tepatnya pintar memposisikan diri. Tak pantas rasanya jika aku menyebut Kana gadis yang pendiam ataupun pemalu, kenyataannya dia menjadi ketua osis di SMA dulu. Dia anggun dan ramah, namun juga tegas ketika memimpin rapat. Saat itu aku melihat Kana untuk pertama kalinya. Kulihat dia tengah menggendong bayi bersama seorang lelaki yang kutemui dua tahun yang lalu di sebuah pernikahan sederhananya. Kana sudah banyak berubah, bukan ke arah yang buruk namun ke arah yang bahkan lebih baik lagi dari sebelumnya. Dengan balutan jilbab berwarna biru toska dan khimar berwarna senada membuatnya semakin anggun dan cantik. Di tambah dengan kebahagiaan keluarga yang kulihat jelas di depan mataku. Banyak hal yang kuperbincangkan dengan Kana. Sesekali mengenang kembali masa-masa SMA. Bercanda bersama, dia memang Kana yang kukenal dulu. Yang setiap katanya selalu bernapaskan islami, rasanya nyaman sekali berbicara dengan dia. Di tengah pembicaraan kami berdua yang hangat, tiba-tiba Kana menanyakan sesuatu hal yang membuatku terdiam.

“Kapan mau nyusul?”

“Nyusul apa maksud kamu?” Aku pura-pura tidak mengetahui arah pembicaraan Kana saat itu. Padahal aku sudah paham betul dengan pertanyaan itu. Kapan aku menikah, kurang lebih begitu Kana menanyakan.

“Menikah.” Aku tersenyum mendengar perkataan Kana. Sesekali menghela napas panjang. Pertanyaan Kana pas sekali dengan pikiranku saat itu. Tentang kapan Rio akan menikahiku.

“Aku sudah berpacaran dengan Rio, pacarku, selama lima tahun. Tapi dia tidak pernah membicarakan tentang pernikahan ataupun hal pasti lainnya. Terkadang aku bingung harus bagaimana.” Kulihat Kana tersenyum simpul mendengar curhatanku saat itu. “Kalau kamu sendiri, bagaimana dengan suamimu? Berapa lama kamu berpacaran?”

“Aku tidak berpacaran dengan suamiku, Mika.”

“Tidak berpacaran? Kamu dijodohkan oleh orang tuamu?” Kana menggeleng. “Aku berkenalan dengan dia selama kurang lebih tiga bulan lalu langsung menikah.” Aku terkejut. Tiga bulan? Langsung menikah? Mengapa bisa?

“Kamu hanya membutuhkan tiga bulan untuk memantapkan hati dan menjadikan dia sebagai suamimu? Kenapa?” Pertanyaanku terus menyerbu Kana.

“Itulah cinta, Mika. Aku hanya mengikuti skenario yang telah Allah tunjukkan padaku. Bahwa ketika rasa cinta itu hadir maka menikahlah.” Aku masih belum mengerti apa yang dikatakan oleh Kana.

“Meskipun sekarang aku ingin sekali untuk menikah, tapi kalau hanya beberapa waktu untuk mengenalnya aku rasa itu tidak cukup, aku pikir kamu dan suamimu harus berpacaran dulu, saling mengenal, saling memahami lalu baru menikah.”

“Kamu sudah berapa lama berpacaran dengan Rio?”

“Kurang lebih lima tahun.”

“Kamu isi dengan apa lima tahun berpacaran dengan Rio?” Aku kikuk dengan pertanyaan Kana. Lima tahun berpacaran dengan Rio, apa yang kudapat? Aku bahkan tak habis pikir, waktu selama itu tak ada hal yang kuingat sedikitpun. “Mungkin kamu dan Rio merasa selama lima tahun telah menghabiskan waktu bersama. Bersenang-senang, bermain-main, bahkan mungkin terjadi sebuah pertengkaran lalu merasa sudah terselesaikan. Begitu bukan?”

“Ya begitulah Kana. Selama lima tahun ini aku telah menghabiskan waktu bersama Rio.”

“Bukankah hal itu merugikanmu Mika?”

“Merugikanku? Maksudmu?”

“Kamu menghabiskan waktu bersama laki-laki yang bukan suamimu?” Aku tertegun. “Disini wanita yang akan dirugikan Mika. Kamu menghabiskan waktu dengan laki-laki yang bukan suamimu, bersenang-senang. Kalau hidup hanya untuk bersenang-senang, maka tidak ada artinya hidup di Dunia. Kamu pernah menanyakan kapan Rio akan menikahimu?”

“Ya, aku pernah menanyakan pada Rio. Tapi dia mengatakan bahwa saat ini bukan waktu yang tepat. Dia masih membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memantapkan hatinya.”

“Begitulah, Mika. Dia masih membutuhkan waktu yang lebih lama untuk bermain-main denganmu.”

“Kana, entah mengapa saat kamu membicarakan hal ini, aku sangat terpukul sekali. Bukan, aku bukan marah padamu ataupun merasa jengkel karena kamu terus mengomentari hubunganku dengan Rio. Tapi, aku merasa melakukan sebuah kesalahan. Tapi aku tidak tahu apa itu, dan mengapa aku bisa melakukan sebuah kesalahan seperti itu. Aku hanya ingin menikah, maka dari itu aku berpacaran dengan Rio untuk mengenalnya lebih jauh dan saling memahami satu sama lain. Tapi tentang waktu kapan aku menikah, aku merasa bimbang.”

“Sudah sewajarnya seorang manusia ingin menikah Mika. Karena manusia di beri sebuah perasaan nan suci oleh Allah. Tapi hanya dua pilihan saja ketika perasaan cinta itu hadir, Mika.”

“Apa itu?”

“Melampiaskan atau mengendalikannya.”

“Maksudmu sekarang aku sedang melampiaskan perasaanku?”

“Betul. Tapi caramu melampiaskan itu keliru.”

“Hah?”

“Berpacaran, kamu melampiaskan perasaanmu dengan berpacaran. Sebuah hubungan yang tak jelas arah tujuannya. Kamu merasa seperti itu kan saat ini?” Aku mengangguk, tanda mengiyakan. Sebuah hubungan yang tak jelas arah tujuannya, aku melakukannya selama lima tahun ini?

“Dengan alasan cinta, mereka berpacaran selama bertahun-tahun bahkan sampai berpuluh-puluh tahun, hanya untuk apa? Untuk saling memahami? Untuk saling mengenal? Bukan, bukan Mika, tapi untuk melampiaskan hawa nafsunya. Rasa cinta yang mereka punya tidak mereka lampiaskan dengan cara yang benar.”

“Jadi menurutmu, aku berpacaran saat ini itu adalah tindakan hal yang salah?”

“Aku harus mengatakan yang sebenarnya Mika. Karena hanya satu cara untuk melampiaskan rasa cinta, yaitu dengan menikah. Bukan dengan pacaran ataupun hubungan yang tak jelas lainnya yang hanya dapat membuat kita, para wanita merasa dirugikan. Bukan hanya wanita, bahkan mungkin lelaki sekalipun merasa perasaan mereka tak di hargai oleh pasangannya.”

“Aku pernah mendengar seseorang menikah dengan cara berta’aruf. Tapi aku merasa tidak pantas untuk melakukannya, Kana. Terlebih saat ini orang-orang menganggap bahwa sebelum menikah biasanya pasangan itu selalu berpacaran terlebih dahulu.”

“Apa orang lain akan ikut merasakan apa yang kamu rasakan?” Aku menggeleng. “Lalu, untuk apa kamu merasa terbebani oleh pendapat orang lain? Aku tidak ingin menjadi diri yang munafik, kuakui saat aku dan suamiku dulu menjalani ta’aruf atau sering kita menyebut proses pengenalan, keluargaku sempat tidak setuju. Kenapa? Tepat seperti yang kamu katakan tadi, kelaziman masyarakat atau tradisi masyarakat yang begitu melekat, sebelum menikah ya pacaran dulu. Seiring berjalannya waktu, aku menemukan sebuah arti kehidupan yang sebenarnya tentang bagaimana perasaan ini dapat dihargai. Ya dengan menikah bukan dengan pacaran, terlebih aku melihat teman-temanku yang merasa tak dihargai perasaannya saat menjalani hubungan tak jelas itu. Apakah orang lain akan ikut merasakan betapa sakitnya ketika perasaan tidak dihargai? Tidak. Apalagi untuk membantu, mereka tidak bisa melakukan apapun. Karena itu aku percaya, bahwa semua hal yang ada pada diri manusia hanya bisa kita kembalikan kepada Allah, bukan kepada orang lain. Ketika Allah menyuruh kita untuk menikah, maka menikahlah. Itu adalah hal yang terbaik untuk kita.” Aku tertegun mendengar perkataan Kana, seperti sebuah sambaran petir di siang bolong yang tiba-tiba menyambarku hingga tersadarkan bahwa saat itu aku telah berjalan di sebuah jalan yang salah. Aku menangis, Kana memberiku semangat. Rasanya perkataan Kana tadi telah menampar pipiku dengan keras, sakit memang tapi hal itu membuktikan bahwa aku masih memiliki perasaan yang harus Rio hargai. Terlebih aku telah salah menitipkan harapanku pada manusia, bukan pada Sang Maha Penyayang, Sang Maha Pemilik Cinta yang sesungguhnya, yaitu Allah. Aku baru menyadari bahwa sejak awal aku sudah memilih jalan yang salah, mungkin ini adalah peringatan dari Allah bahwa seharusnya aku tidak memilih jalan ini. Dan Allah menunjuk Kana untuk menjelaskannya padaku. Aku menangis sejadi-jadinya, kerudungku basah oleh air mata yang tak bisa kubendung lagi. Aku memeluk Kana.

“Aku akan putus dengan Rio.” Aku terus mengatakan hal itu berulang kali. Sampai saat aku sudah merasa tenang, kuusap air mata yang membasahi pipiku dan mengucapkan rasa terima kasihku pada Kana. Dan begitulah Kana, sifat rendah hatinya membuatku semakin sayang kepada sahabatku yang satu ini.

Dan saat ini dengan berlinangan air mata telah kubuktikan perkataanku pada Kana, aku akan putus dengan Rio. Emosiku yang meluap-luap mengalahkan rasa takutku.

“Jadi kapan kamu akan siap untuk menikahku?!” Rio terbelalak dengan sikapku saat itu, semuanya jelas kulihat dari raut wajahnya yang panik.

“Soal itu.. aku juga tidak tahu.” Hatiku semakin sakit mendengar jawaban Rio. “Baik, jika itu jawabanmu, maka tegas kukatakan padamu bahwa hari ini aku ingin putus denganmu. Ini bukan lagi sebuah lelucon belaka, Rio! Aku serius ingin putus denganmu!” Rio terkejut dengan perkataanku. Aku menatap tajam Rio. “Sadarlah Mika! Ada apa denganmu?”

“Sadar? Ada apa denganku? Bukankah pertanyaan itu lebih pas aku pertanyakan kepadamu? Kapan kamu akan sadar bahwa perasaanku padamu itu bukan untuk dipermainkan! Dan ada apa dengan sikapmu yang terus menyuruhku untuk tetap menjalani hubungan yang tak ada arah tujuannya ini?!”

“Sudah kubilang padamu, bahwa aku belum siap. Jika aku sudah siap, pasti aku akan menikahmu.”

“Butuh waktu berapa lama kamu akan siap untuk menikahiku? Sepuluh tahun? Lima belas tahun? Atau kamu hanya membual untuk menujukkan bahwa kamu itu seseorang yang tidak memiliki komitmen?!” Kata-kataku semakin menajam. Emosiku meluap, namun sebisa mungkin aku mengendalikannya. Kulihat raut wajah Rio merah padam, seperti tersinggung dengan perkataan tadi. Seseorang yang tidak memiliki komitmen, rasanya perkataan itu yang mewakili kekesalanku saat ini. Namun detik waktu mengantarkan kami berdua pada keheningan sesaat, Rio tak kunjung angkat bicara setelah kulontarkan perkataan tajam tadi.

“Setidaknya tunggu sampai aku menemukan pekerjaan yang layak. Menikah itu bukan perkara yang mudah. Aku perlu mempersiapkan rumah untuk beristirahat, uang untuk memenuhi kebutuhan kita dan hal lainnya. Aku masih belum siap untuk itu.”

“Aku? Apa kamu akan menikah dengan dirimu sendiri?” Aku mengela napas panjang. “Rio, selama lima tahun aku berpacaran denganmu, aku tidak pernah melihatmu mempersiapkan hal itu. Katakan yang sebenarnya jika perkataan tadi itu salah. Apa kamu pernah mempersiapkan hal itu?” Rio tidak menjawab. Hembusan napasnya terdengar berat. “Aku tidak ingin menuntutmu harus begini dan begitu untuk menjadi suamiku. Aku hanya ingin kamu mau menikahiku karena Allah dan melanjutkan kehidupan bersama untuk meraih ridho Allah. Itu saja.”

“Aku masih belum siap.” Lagi-lagi Rio mengatakan hal itu padaku. Aku semakin geram. Setelah perkataanku yang sangat panjang, dia hanya menjawabnya seperti itu. “Kalau begitu, aku ingin memutuskan hubungan ini denganmu.” tegasku.

“Baiklah, jika itu kemauanmu.” Aku melihat Rio, raut wajahnya pun tak lagi merah padam seperti tadi. Entah apa yang membuatnya menjadi berubah seperti ini. Tak lagi arogan seperti tadi. “Tapi, aku ingin menanyakan satu hal padamu, Mika.” Kuperhatikan dengan seksama saat Rio mengatakan hal itu. “Apa yang membuatmu ingin menikah?” Dengan santainya Rio menanyakan hal itu padaku. Emosiku mulai menguap lagi. Pertanyaan bodoh macam apa ini, pikirku. Semua orang ingin menikah, melampiaskan perasaannya pada sebuah ikatan pernikahan. Terlebih atas nama agama, semua itu sudah jelas tak perlu dipertanyakan lagi.

“Kamu itu aneh, Rio. Bukankah pertanyaan itu sudah jelas jawabannya? Yang menjadi persoalan saat ini adalah mengapa kamu masih tetap ingin menjalani hubungan ini?” Rio menghela nafas panjang. Tangannya ia lipat di depan dada dan menatap tajam ke arahku. Tak bisa kuterka apa maksud dari tatapan Rio saat itu. Aku mengalihkan pandanganku.

“Mungkin kita memang tidak bisa bersama.” Aku melihat Rio lagi. “Entah apa yang terjadi padamu, tapi saat ini kurasa kamu telah berubah, Mika. Kita tidak lagi satu pemikiran.” Kuakui semua yang dikatakan Rio saat itu. Aku berubah. Prinsipku telah berubah. Aku pun tidak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi secepat ini. “Mungkin kita memang harus mengakhiri hubungan ini.” Rio melangkahkan kakinya menghampiri motor dan menaikinya. Setelah memakai helm, ia berbalik menoleh ke arah ku.

“Akan kuantar kamu pulang, dan mungkin ini terakhir kalinya aku akan bertemu denganmu.” Aku mengernyitkan kening, bingung. “Maksudmu?” Rio berbalik menghadap ke depan. “Besok aku akan pergi ke kota, untuk mencari kerja.” Aku semakin bingung dengan perkataan Rio. “Lalu kuliah mu?” Rio menoleh ke arah ku. “Berangkat kuliah lalu langsung pulang ke sini rasanya melelahkan juga, kuputuskan untuk menyewa kamar kos disana. Lagipula, alasanku pulang pergi kuliah hanya karena ingin bertemu denganmu, lalu setelah ini aku tidak mempunyai alasan untuk tetap berada disini.” Aku mengangguk, tanda mengiyakan. “Ayo, naik.”

Aku belum juga menaiki motor Rio, “Mungkin aku akan naik mobil umum saja, Rio.” Rio melihatku. “Ya sudah kalau begitu. Hati-hati, maaf tidak bisa mengantarmu sampai pulang. Assalamualaikum.” Tak banyak bicara Rio langsung menggas motornya dan menghilang dikejauhan tertutupi gelap gulitanya malam.

Berakhirlah sudah. Semua yang ingin kukatakan pada Rio sudah tersampaikan. Sering kumendengar cerita dari teman-temanku ketika putus dengan kekasihnya, rasa sedih, kecewa, marah, menyesal semuanya seperti tercampur aduk. Tapi bagiku, semuanya indah, lega dan aku bahagia. Sama seperti langit malam itu, cerah, bertabur bintang di tengah hitam legamnya langit malam. Dan semuanya di mulai esok, akan kutata kembali kehidupanku yang hancur oleh nafsu duniaku. Akan kucari, arti kehidupan yang sebenarnya bersama tekad yang kumiliki, bersama sahabat terbaiku, Kana, yang akan selalu membimbingku dan bersama Dia, Sang Maha Segalanya yang mampu membolak-balikan hati manusia sehingga kini aku mengerti dengan semua yang kulakukan dulu adalah keliru. Selamat tinggal Rio, semoga kelak kamu akan mengerti bahwa cinta yang kita berdua miliki tak hanya cukup dengan hubungan berpacaran saja, tapi bersumpah di depan wali dan saksi adalah bukti sebenarnya dari cinta yang Dia berikan pada masing-masing hati.

Sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah : Upaya Membentuk Umat Terbaik

10/30/2017 Add Comment
-Syukron Fadillah | Islamic Teens Inspirators-

stp-kuningan1-jurnal-kehidupan

Disaat generasi muda hari ini terus menerus digempur dengan tayangan-tanyangan tak mendidik, pergaulan bebas, narkoba, budaya barat yang hedonis, dan lain sebagainya. Sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah menjadi solusi yang tepat untuk membentengi generasi muda kita yang hari ini dijajah dari berbagai aspek.

Penjajahan itu kian hari kian masif, dan dengan sadar akan menghancurkan bangsa Indonesia. sudah saatnya penjajahan gaya baru (neoliberal) ini harus kita lawan segencar-gencarnya. jangan sampai dibiarkan. Maka kita dan seluruh elemen masyarakat harus bersinergi untuk mencari solusi sesuai yang islam ajarkan untuk kebaikan negeri ini. dan solusinya adalah dengan membentuk generasi kita menjadi generasi yang hafal serta faham Alquran.

stp-kuningan-jurnal-kehidupan

Dengan membentuk generasi hafidz-hafidzah maka generasi muda bangsa ini akan dapat menjadi pemimpin yang meneladani Nabi Muhammad SAW. Namun, bila generasi muda indonesia dibiarkan saja bergecimbung dalam dunia televisi yang jelas-jelas merusak moral, atau dengan pergaulan yang tak kenal batas, maka jelaslah Indonesia akan hancur dan tinggal sejarah. inilah yang dicita-citakan penjajah.

Untuk itu, generasi muda yang kompeten dalam menghafal Alquran sangat diperlukan guna melawan penjajahan gaya baru ini, dimana penjajahan gaya baru ini didesign dengan sistematis untuk membunuh karakter. khususnya karakter anak bangsa. agar mereka para penjajah dapat dengan mudah mengambil kekayaan alam indonesia untuk diekspoitasi.

Generasi muda yang luar biasa juga sangat diperlukan untuk membawa negeri kita menjadi negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. So, mari bersama kita wujudkan itu dengan islam dan generasi islam.

Dokumentasi Sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah-Kuningan, 29-Oktober-2017

SENJA BERJINGGA : Ketika Matahari Tenggelam

10/29/2017 Add Comment
Oleh Megita Rubiana Sabella

senja-berjingga-ketika-matahari-tenggelam-jurnal-kehidupan

Rasanya sudah terlampau jauh aku menjadikannya sebagai seseorang yang terus aku pikirkan selama tiga tahun di SMA. Hanya karena aku merasa bahwa sikapku ini kurang baik terhadap perasaannya. Seseorang pernah berkata padaku bahwa untuk seorang gadis yang sedang di sukai oleh orang lain, sikapku ini terlalu acuh. Meski sedikit kutepis prasangka itu, namun sepertinya aku memang harus lebih menghargai dia yang pernah menyatakan perasaannya padaku. Semua ini berawal saat aku duduk di bangku kelas satu, ketika bel pulang berbunyi, semua teman-temanku sudah pulang namun Tio menahanku. “Aku menyukaimu, Olive.” Ditengah langit berhias jingga, dia mengatakan kata-kata itu padaku. Aku terkejut, lidahku kelu, jantungku berdetak tak karuan. Perasaanku berteriak untuk segera menjawab pernyataannya itu. Namun jauh dalam lubuk hatiku, terdengar suara lirih yang membuatku tertegun.

Jika kamu menerimanya, kamu dan dia akan menjalin sebuah hubungan berpacaran. Siapkah dirimu menjadi seorang perempuan yang akan menjalin hubungan dengan laki-laki yang sama sekali tidak kamu kenal? Bukankah perihal cinta dan kasih sayang itu biasanya mereka persiapkan untuk dirinya di masa depan? Lalu bagaimana kamu akan menjelaskan hubunganmu ini nanti? Dan untuk menikah, kamu bahkan belum bisa menyelesaikan tugas sekolahmu dengan baik. Ini bukan saatnya membicarakan cinta, kasih sayang apalagi sebatas perasaan yang terkadang hilang begitu saja.

Kamu masih menolak? Baiklah, mungkin jika Tuhanmu yang memerintahnya mungkin kamu akan menerimanya. Roda kehidupan dunia yang kamu jalani tak lepas dari pengawasan-Nya, kamu tidak akan bahagia jika melanggar perintah-Nya. Bahkan untuk mengutarakan perasaan cinta, jika tak kamu utarakan dengan cara yang benar menurut pandangan-Nya, maka kamu akan tergelincir oleh kebahagiaan dunia yang tak lebih dari ilusi semata.

Aku menghela napas, entah siapa yang mengatakan semua hal itu padaku. Namun hatiku tak bisa menyangkalnya bahwa aku memang tidak bisa menerima pernyataan ini. Terlalu cepat untuk memulai sebuah hubungan percintaan, terlebih dengan hubungan seperti ini akan membuatku semakin tak bisa bebas melakukan hal apapun. Kekasih? Siapa dia? Mungkin perihal jodoh adalah kuasa Allah, tapi tekadku mengatakan bahwa tidak ada kebahagiaan yang bisa didapatkan dari kemaksiatan. Bismillah, aku akan menolaknya.

“Sebelumnya terima kasih atas pernyataanmu, Tio, aku lebih suka kamu menyukaiku daripada membenciku, tapi untuk selebihnya aku tidak bisa melakukan apapun. Suka dan tidak suka hanyalah sebuah kata-kata, maka kupikir aku menyukaimu, menurut pemikiranku.” Kusudahi pembicaraan empat mata ini dan meninggalkan Tio. Sejak saat itu aku terus memikirkan apakah Tio akan mengerti atau tidak.

Setelah pernyataannya itu, aku dan Tio berteman seperti biasa sampai saat kelas tiga ini. Bahkan komunikasi antara kami berdua masih sama seperti dulu. Seperti tak terjadi apapun, meskipun aku yakin bahwa tidak ada penolakan yang halus, tak membekas sedikitpun, namun aku percaya bahwa ini adalah yang terbaik. Bahkan setelah itu aku dan Tio sering bertemu dalam satu kelompok pelajaran, tentu kami berdua banyak berdiskusi.

“Kamu menolak Tio, tapi Tio bahkan tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Dia masih menyukaimu, Olive.” perkataan Lala saat jam istirahat di sebuah kantin itu sedikit membuatku terkejut, karena sepenglihatanku Tio sepertinya sudah tak ada perasaan lagi denganku.

“Dan kamu Olive, sikapmu itu terlalu kejam untuk dia! Tidak bisakah kamu sedikit tersenyum ketika Tio melihatmu?” Ufa menambahkan, aku semakin terpojok saat itu. “Aku hanya bersikap biasa kepada Tio, kurasa Tio pun bisa menerimanya. Aku tidak mau dia merasa memiliki harapan apapun, aku hanya ingin dia menyadari bahwa hubungan berpacaran bukanlah cara melampiaskan perasaan yang tepat.”

Ufa dan Lala menghela napas panjang, aku bingung dengan mereka berdua. “Kamu itu terlalu kaku, Olive. Anak muda jaman sekarang itu sudah biasa dengan pacaran.” tegas Ufa.

“Iya betul, aku dan Ufa juga sudah punya pacar sekarang, kenapa kamu tidak menerima Tio saja? Setelah itu kita bisa berbagi pengalaman tentang hubungan berpacaraan kita bertiga kan?” Aku hanya tersenyum mendengar pendapat dari teman-teman yang memang sangat dekat denganku sejak kelas satu SMA.

“Maaf aku tidak bisa seperti kalian, aku hanya mempunyai pemikiran yang berbeda tentang hubungan ini. Aku ingin langsung menikah.” Lala dan Ufa tiba-tiba menatap tajam kearahku. “Kita masih kelas tiga SMA, Olive sadar! Kamu mau nikah muda?” Aku tertawa kecil. “Bukan sekarang maksudnya, tapi nanti kalau sudah ada calonnya. Untuk pacaran, aku tidak terlalu tertarik dan juga..“

“Dilarang oleh agama?” Ufa memotong pembicaraanku.

“Eh?” Aku melihat kearah Ufa.

“Iya, aku mengerti kok. Mungkin seharusnya aku yang mengikuti kamu, bukannya memaksamu untuk sama seperti kita berdua. Maaf, Olive, aku belum bisa sepertimu.” Suara Ufa terdengar lirih. “Aku dan Dani sudah berpacaran selama dua tahun, aku terlalu naif jika harus memutuskannya sekarang. Untuk jadi sepertimu itu sulit Olive.” Lala menundukkan pandangannya, aku tersenyum. Entah kapan mereka berdua menyadari bahwa cahaya Allah sudah terpancar dari dalam hati mereka berdua. Aku selalu mendo’akan mereka berdua untuk segera keluar dari lingkaran kegelapannya. Aamiin.

“Semangat! Nanti, kalau kalian berdua putus dengan pacar kalian, hubungi aku ya?” Aku tertawa kecil.

“Olive kejam!!” Aku tertawa bersama mereka berdua, rasanya indah sekali jika bersama-sama dengan mereka. Meskipun aku dan mereka tak satu pemikiran, tapi aku dapat memahami bahwa sebenarnya mereka menyadari apa yang mereka lakukan. Ini hanya masalah waktu, kapan mereka bisa meredam ego dalam hati dan menerima fitrah mereka sebagai seorang manusia yang ingin selalu dihargai perasaannya.

Hari-hari berikutnya, aku tak bisa membayangkan bahwa hubunganku dan Tio setelah pernyataannya itu akan menjadi serumit ini. Terlebih Ufa dan Lala terus memarahiku karena sikapku terlalu acuh terhadap Tio. Aku seperti seseorang yang tidak bisa menghargai perasaan orang lain, aku bingung. Kuambil cara paling tepat yaitu dengan sedikit lebih sering berbicara dengan Tio, meskipun dalam lingkup diskusi ketika belajar saja, karena aku tidak bisa melakukannya lebih dari itu. Semakin lama, aku merasa bahwa aku sering memikirkan Tio. Bukan karena aku mulai menyukainya, tapi karena mengkhawatirkannya. Tentang apakah sikapku ini tidak membuatnya sakit hati atau tidak? Atau tentang apakah sebenarnya dia sudah tidak memiliki perasaan lagi padaku? Jika benar, aku ingin mengetahuinya lebih awal, agar aku bisa menjalani kehidupanku seperti dulu lagi, tak lagi terikat dengan perasaan orang lain.

“Sudah kubilang kalau Tio itu masih menyukaimu! Lihat saja dari sikap dan tatapan matanya! Kamu itu tidak percaya sekali padaku!” Ufa menceramahiku begitupun dengan Lala.

“Aku takut semua itu hanya prasangka kalian saja.”

“Aku yakin seratus persen, Olive!” Dengan cepat kuambil kesimpulan bahwa Tio masih menyukaiku, meskipun aku masih ragu. Jika benar begitu, aku harus lebih memperhatikan sikapku agar tidak menyakiti Tio. Kutekadkan semua ini dalam hatiku.

Keesokan harinya, hujan pun mulai turun ketika jam istirahat. Sayangnya aku tidak membawa payung hari itu. Saat bel pulang berbunyi, aku hendak menunggu hujan reda di dalam kelas setelah Lala dan Ufa pamit untuk pulang karena mereka berdua pulang satu arah, kupikir hanya aku saja yang belum pulang, ternyata seorang laki-laki yang mendadak saja membuatku terkejut masuk ke dalam kelas.

“Olive?”

“Tio?” Ternyata Tio masih ada kegiatan ekstrakurikuler. Kikuk, itu pasti. Aku tidak berniat untuk membicarakan apapun, terlebih hanya aku dan Tio saja yang berada di dalam kelas itu, rasanya aku ingin cepat pulang karena takut terjadi hal yang di luar dugaanku. Tio duduk dibangkunya, aku semakin bingung dengan keadaan seperti ini. Hujan di luar mulai mereda, tak habis pikir lagi, aku pun segera beranjak dari tempat dudukku dan pergi meninggalkan Tio. Namun belum juga aku keluar melewati pintu kelas, Tio memanggilku. “Olive, tunggu!” Jantungku berdegup kencang. “Ada apa?” Aku menoleh.

“Sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu.”

“Apa itu?”

“Aku masih menyukaimu dan akan selalu menyukaimu. Mungkin semua ini terdengar konyol, karena kamu sudah menolakku dulu. Tapi aku benar-benar tidak akan bisa bersama dengan perempuan lain.” Saat itu aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kudengar.

“Terima kasih, aku yakin kamu mengatakan itu sebagai seorang teman. Aku pulang duluan ya.” Tio tersenyum, aku pun segera pergi meninggalkannya. Namun tetap saja, dengan begitu aku harus bisa lebih menjaga sikap dan jarak terhadap Tio. Meskipun sulit, akan kuusahakan untuk tetap bersikap seperti biasa saja.

Lagi-lagi setelah Tio mengatakan hal itu padaku, aku lebih sering memikirkannya. Rasanya tak karuan, tak bisa kujelaskan dengan rinci tentang apa yang selalu aku pikirkan. Tapi benang merahnya aku sudah paham. Aku tidak bisa melakukan apapun dengan perasaan Tio padaku, tapi aku tidak ingin menyakitinya juga. Sungguh dilema, tapi untuk menerimanya sekalipun itu bukan pilihan yang tepat. Aku hanya berharap suatu saat waktu akan memberiku jawaban yang jelas tentang apa yang sebenarnya harus kulakukan.

Keesokan harinya, suasana kelas menjadi gaduh. Aku belum bisa menemukan penyebab kegaduhan ini, namun tiba-tiba kudengar nama Tio.

“Tio dan Putri sudah berpacaran selama dua minggu.” Aku terkejut sekaligus bingung dengan berita yang membuat gaduh kelasku. Entah hanya berita palsu ataupun memang benar adanya aku ingin mengetahui yang sebenarnya. Karena jelas hal ini membuatku semakin bingung, terlebih kemarin Tio mengatakan dengan tegas tentang perasaannya, rasanya tak ada yang bisa kupercayai saat ini.

Dengan berita yang beredar itu, aku semakin memikirkan Tio. Ingin kutanya padanya tentang semua yang membingungkan ini, tapi untuk apa? Jika benar Tio sudah tak ada lagi perasaan padaku, bukankah lebih bagus? Aku tidak harus lagi memikirkan bagaimana aku harus bersikap. Namun, hidup di tengah keragu-raguan dan ketidakjelasan seperti ini memang tidak menyenangkan.

Sepertinya Allah mengetahui isi hatiku saat ini, tentang kejelasan dan kesimpulan dari semua ini. Dengan takdir Allah, waktu menuntunku pada sebuah kejelasan yang sudah cukup membuatku mengerti. Di bawah langit yang sama, dengan hiasan jingga yang bertaburan di atas langit, aku melihat Tio dan Putri melintas dihadapanku. Tangannya menggenggam tangan Putri, bibirnya tak habis-habisnya tersenyum, lalu tertawa bersama. Dia, Tio, laki-laki yang mengatakan padaku bahwa akan selalu menyukaiku beberapa hari yang lalu kini berjalan dengan bahagianya bersama perempuan lain. Sebenarnya bukan tentang bagaimana perasaanku melihat mereka berdua, tapi tentang bagaimana aku merasa bersyukur atas pilihanku dulu. Lala dan Ufa tak henti-hentinya menghiburku seolah-olah aku merasa sedih dengan semua hal ini. "Aku tidak apa-apa, bukankah sejak awal aku sudah menolaknya?"

"Aku pikir Tio masih menyukaimu, Olive, jadi aku berusaha untuk terus mendukungmu dengan dia." Aku hanya tersenyum. "Aku pun berpikir begitu, karena sikap Tio kepadamu seperti seseorang yang jatuh cinta, jadi.."

"Sudah, tidak apa-apa. Semuanya sudah berakhir, aku senang jika Tio tidak ada perasaan lagi padaku, dengan begitu aku tidak usah memikirkan bagaimana perasaannya lagi, aku bahagia dengan semua ini. "Aku tidak bisa mengatakan kepada mereka berdua bahwa sebenarnya Tio telah mengatakan padaku bahwa dia memang masih menyukaiku dan bahkan memperjelas perkataannya bahwa dia akan selalu menyukaiku. Aku tersenyum, bahkan terkadang tertawa tentang apa yang sebenarnya terjadi. Rasanya bodoh sekali jika selama ini sibuk memikirkan bagaimana perasaan Tio, tentang bagaimana aku harus bersikap agar tidak membuat Tio sakit hati dan lain sebagainya. Aku menyibukkan diri dengan memikirkan perasaan orang lain, bahkan mungkin dia tidak pernah memikirkan itu. Namun semuanya telah terskenario dengan baik, Allah menuntunku pada sebuah kenyataan yang begitu memukulku. Bahwa jika aku memang sudah bertekad untuk menolaknya, maka pembahasannya tidak akan seperti ini. Cukup dengan pembatas, perasaan Tio adalah perasaan Tio dan perasaanku adalah perasaanku. Hanya itu, karena luka dalam hati tak ada seorang pun bisa menghindari, maka terlalu egois untukku berusaha agar Tio tidak sakit hati dengan sikapku. Meskipun dipenglihatanku, Tio seolah-olah mendorongku ke dalam jurang perasaannya, lalu meninggalkanku sendirian seakan tak ada pilihan selain masuk ke dalam jurang perasaan itu. Namun, sinar matahari di senja kala itu membuatku sadar tentang jurang perasaan yang Tio buat dan dengan tenggelamnya matahari pada sore hari itu sinarnya mengiringi langkahku untuk pergi menjauh. Hingga sampai esok pagi aku bisa menjalani kehidupanku seperti dulu lagi.