Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Tak ada Daya

12/04/2017 Add Comment
tak-ada-daya-jurnal-kehidupan


Apalah daya, ketika seorang anak berdusta pada orang tuanya. ketika anak itu sadar dia hanya bisa meratapi kesalahannya dengan sebuah tangisan yang meminta ampunan kepada sang pencipta agar dapat memaafkan dosa dirinya.

Ketika anak itu mengingat bayangan wajah ibunya, air matanya seakan sungai yang tumpah tanpa penghalang. kesalahan yang amat begitu dalam. tidak akan bisa dimaafkan walaupun oleh dirinya sendiri. 

Dia merasa hidup dipenuhi oleh beban yang sangat berat sekali, saking beratnya ia juga tak bisa menampung semuanya. lelah letih kedua orang tuanya seakan tidak ada artinya ketika syetan penghasut menguasai dirinya. 

Begitu besar pengorbanan orang tua untuk seorang anak. jangan pernah mengabaikan setiap keringat yang dikeluarkan dari pori-pori kulit seorang ibu dan ayah. karena penyesalan akan datang di akhir. penyesalan tak akan membuat kita bahagia. dan setiap aktifitas yang kita lakukan harus dalam keadaan sadar sekadar mungkin. jangan sampai kita menyesal. 

Ambillah pelajaran dari setiap kesalahan.

Karena tak akan ada daya dan upaya jika kita telah sampai di titik penyesalan.

Ada apa dengan cinta?

11/29/2017 Add Comment
Oleh Ayahku, Maman Sulaeman

ada-apa-dengan-cinta-jurnal-kehidupan


Dalam kubangan sepi hari-hari betapa sunyi melintasi waktu-waktu berlari. Tiada hasrat tanpa gairah. Memendam lalu mengubur perasaan luka yang membekas memang tidak mudah dan tidak mungkin untuk melupakan sepanjang ingatan. Lagi-lagi soal cinta bikin heboh dikalangan remaja yang mulai mengenal cinta. dan memang semua orang pun menginginkan cinta dan dicinta tapi yang perlu diingat dan diwaspadai yang berawal dari situ akan hadir dilema bahagia atau sengsara karena cinta. Derita cinta yang mendera membikin frustasi dan patah hati. Kelam pekat dalam kegelapan tiada kemilau petunjuk jalan berlalu tanpa arah di kegelapaan lantas merana. banyak sudah kisah kasih yang cintanya tak kesampaian yang menyebabkan tragis yang berkepanjangan. Ribuan bahkan jutaan orang terperdaya karena frustasi. Orang bercinta punya kebahagiaan tersendiri, hati selalu bahagia berbunga-bunga katanya mirip adam dan hawa ketika di surga.

Tapi sungguh tragis bila orang putus cinta tentu akan timbul dilema yang sangat berat, dan bertolak belakang dari yang diharapkan. Itu biasanya akan membawa perubahan kepada fisik. Kalau tidur tiada lelap, makan terasa sekam, minum terasa duri, hitam dikatakan putih, lalu putih dikatakan hitam, lantas untuk apa hidup kalau terus menerus memamah-mengunyah buah duri derita cinta dan mabuknya pun akan memuntahkan segala isi kekecewaan dan memburalakan segala ungkapan. Derita demi derita kemana pergi membawa luka, luka dari liku-liku perjalanan cinta, dalam keputusasaan lebih baik tak laku-laku ketimbang hidup menderita karena cinta. Dalam renungan panjang tentunya akan timbul buah dari pemikiran dan banyak pertanyaan. Adanya pemikiran yang tertumpu dan terarah soal cinta kasih pada awalnya.

Cinta itu kasat mata, lahir dari naluri sejuta rasa. Kehadirannya misteri penuh teka-teki. Tumbuh tanpa disemai subur tanpa dipupuk benih-benih itu akan tumbuh dengan sendirinya, jangan terlalu memanjakan cinta berhalusinasi dengan kemesraan apalagi memfokuskan imajinasi kepada sang kekasih itu akan merusak dan terkikisnya kebenaran secara perlahan.

Sadarlah wahai tutup termos, songkok kumal. Bahwa hidup tidak sendiri ada tiga teman batin yang selalu mengiringi. Nafsu, akal, dan hati sebagai penentu apa yang akan dilakukan. dan pacaran adalah ajakan nafsu yang menggiring ke arah maksiat dan dosa. Jangan menyemai benih dosa sebab kebanyakan dosa akan terjadi kerasnya hati. panjangnya angan-angan menjadikan lupa diri condong akan poya-poya kesenangan dunia, lalu bagaimana konsep hidup sesudah mati? Coba apa persiapannya, Jangan menggunakan aji : "selagi muda gonta-ganti pacar, selagi kaya poya-poya mati masuk surga" itupun kalau bisa, Coba renungkan, yang dilakukan terlalu banyak kesalahan sehingga hidup tidaklah berarti apa-apa dan tidak berguna sama sekali, dari akibat banyaknya dosa yang dilakukan. juga perlu diingatkan siapa kita yang sebenarnya. kita sering melakukan dosa karena kita salah pengabdian dan pada mestinya kita ini abdi Allah bukan abdi nafsu. sekali lagi kita ini abdi Allah bukan abdi nafsu. maka cegahlah nafsu dari segala keinginannya. dan kasmaran itu membangkitkan nafsu paling sulit untuk membendungnya. Cinta bukanlah anugerah, tapi musibah dengan adanya fakta, orang putus cinta sapai sekarat kadal gelojotan nungging-nungging. yang lagi adem dalam bercinta pun tentu lambat laun akan mengalami hal yang sama. berdasarkan hal itu, hindarilah berpacaran dan stop sampai disini! Bagi yang sudah kadong putus cinta, bersabarlah. jangan pasang aksi, cari sensasi, mengada-ada ide gila, sampai mabuk segala, dunia jangan dibikin onar karena ulah.

Tampakan wajahmu dengan keceriaan. artinya jangan menampakan mimik muka kuyu kaya kuya kekenyangan baper. Kendati pun masih tersisa luka karena putus cinta, sebisa mungkin melupakan mantan kekasihmu itu. toh, kita masih bisa mencari hikmah dibalik duka. kalau benci katakan benci. jangan benci tapi rindu, malah nanti persoalannya menambah runyam. Rasanya memang sulit untuk menahan rindu yang menggebu-gebu. ya, karena ada ikatan batin yang melilit di sekujur tubuh dan tak mungkin terlepas begitu saja. dan sebabnya tali pengikat itu kita sendiri yang membuatnya. Kalau kita sadar proses pembuatan tali itu, dimana kita lagi anteng membayangkan wajah si dia dengan halusinasi yang di bubuhi kebahagiaan dan kesenangan maka terjadilah fokus pikiran yang tertuju ke arah sasaran, itu semua tertanda adanya proses tali kekang sebuah ikatan batin. semakin panjang halusinasi, semakin panjang pula ikatan itu. Dengan putusnya pacaran putus pula tali pengekang itu. Putus cinta sangat sakit rasanya, itu resikonya orang pacaran. dan dengan sengaja memutuskan tali percintaan itu merupakan keputusan yang terbaik. Rasa sakit itu akan perlahan-lahan hilang, tergantung perasaan rindu itu hengkang dari keinginan, sebaliknya jangan coba-coba untuk berpacaran kalau nggak mau menahan resikonya. bukan cuma itu, tapi pacaran itu memudahkan melakukan maksiat dan dosa, lalu ada apa dengan cinta? Ambivalency, baper, selagi kita pacaran dan jangan beranggapan bahwa pacaran itu dua hati yang menyatu, tapi dua hati yang saling ketemu, dia-dia, kita-kita!! Wahai tutup termos, peci kumal.

MERAIH GEMERLAP BINTANG

11/17/2017 Add Comment
 Oleh Ayahku, Maman Sulaeman

meraih-gemerlap-bintang-jurnal-kehidupan

Tertatih meniti perjalanan waktu yang kutempuh, banyak sudah serpihan-serpihan duka yang ku lampaui. Betapa tragisnya hidup ini banyak ratapan, hujan air mata, ku jadikan agenda sepanjang perjalanan hidupku. Derap langkahku terasa berat. Tertatih-tatih dalam kegelapan. disaat-saat seperti itu aku sangat mengharap penuh rindu pada seberkas sinar guna penentu arah supaya aku tidak salah melangkah. Bukan cuma itu, tapi bisa memprediksi berapa jauhkah untuk menggapai tepian harapan.

Terlalu banyak rintangan yang menghalangi perjalanan ini. Berapa kali langkahku tersendat dan disaat itu aku hanya bisa merenung mengenang masa laluku yang begitu buram.

Direlung kegelapan, aku berupaya dibalik renungan mencari kejernihan pikiran. Hanya dengan ketenangan pikiran aku timbul gairah dan penyemangat baru. Timbulnya gairah itu, sebisa mungkin melupakan hal-hal yang bisa mematahkan semangat. Serpihan-serpihan duka masa lalu, dari waktu kewaktu sehingga hari biru, itu merupakan warna kehidupan individu.semua insan pun akan merasakan, cuma jalannya yang berbeda.itulah nasib insan di alam maya.

Melangkahi serpihan duka, meloncati cemoohan orang kalau memang langkah mau maju. maka biarkanlah semua berlalu dan cemoohan orangpun akan luntur seiring waktu.

Terkadang pikiranku selalu teringat kepada masa laluku, kalau saja boleh kucatat dari perjalanan hidupku tentunya banyak menghabiskan waktu, tanpa ditulispun sudah penuh mengisi setiap ruang tanpa kosong dibenakku. Makannya apa-apa yang masuk pemikiran-pemikiran yang tak perlu harus kupaksa keluar. lewat ubun-ubun pergi melayang ke awang-awang. Namun pengalaman pahit dan legenda misere tak pernah enyah dalam ingatanku.

Aku hanya mencatat dalam buku diaryku yang ku anggap perlu, supaya dunia tahu. Aku lahir di kota kecil dan dibesarkan disitu pula. bapakku seorang buruh dan ibuku, ibu rumah tangga. Aktivitas kerja bapakku sebagai buruh serabutan, artinya bekerja kalau ada yang menyuruh. Maklum pekerjaan bapakku sebagai seorang pekerja buruh, bapak sering kehilangan pekerjaan. tapi i'tikadku sudah bulat aku ingin terus sekolah sampai ke perguruan tinggi dan tak mau perduli akan penghasilan bapak, aku tetap bersemangat untuk bersekolah. Kedua orang tuaku sangat mendukung inspirasiku walaupun biaya yang hanya pas-pasan, membelaku tak kepalang tanggung. Berkat rahmat Allah, kini aku sudah menjadi mahasiswa di perguruan tinggi negeri di kotaku. sungguh aku sangat bangga sekolahku bisa berlanjut sampai ke perguruan tinggi. disamping, aku merasa bahagia, masih ada saja segelintir orang yang punya pandangan picik dengan berbagai dalih ejekan terhadap keluargaku gara-gara aku masuk ke perguruan tinggi, sungguh ironis sekali. aku tidak mau ribed dengan mereka, dan aku tidak mau perduli.

Mereka menyangka aku punya keinginan meraih bulan menggapai impian semua tak mungkin tercapai, itu cuma mimpi disiang bolong. Rupanya mereka sangatlah keliru. aku bercita-cita ingin meraih gemerlap bintang atau yang ku maksud ingin terus menuntut ilmu guna penerang jiwa supaya aku tak salah arah menggapai apa yang kuinginkan dan ingin mengabdikan diri kepada yang membutuhkan.

Pudarnya Jatidiri Pemuda

11/06/2017 Add Comment
Oleh Guntur Mahesa Purwanto

pudarnya-jatidiri-pemuda-jurnal-kehidupan

Sosok pemuda dikenal sebagai sosok penuh harapan serta menjadi dambaan banyak orang. Bagaimana tidak? Pemuda dalam kacamata dunia adalah aset dan penerus estafet suatu peradaban dikemudian hari. Belum lagi para orang tua yang akan sangat bangga apabila anaknya memiliki prestasi dimasa muda atas hasil dari didikan kedua orang tua dan lingkungan yang ada.

Selanjutnya, pemuda pula yang dapat mengubah serta memberdayakan segala kondisi negeri dari yang tadinya terpuruk, berkembang hingga tercapai maju. Tentunya, semua itu dapat tercapai karena intelektualitas dan semangat khas yang dimiliki seorang pemuda.

Pada zaman milenial dan ditengah arus globalisasi yang melahirkan modernitas ini, para pemuda kini banyak kehilangan jatidirinya. Dirinya lupa dan banyak terlena oleh fatamorgana dunia yang membuatnya mandul dalam membangun dan mengembangkan daya kreatifitas untuk kelanggengan suatu negeri.

Para pemuda masa kini banyak tergiur oleh fantasi dunia yang dapat merusak moral serta aqidah yang dianutnya.

Pemuda masa kini lebih terfokus pada urusan cinta terhadap lawan jenis yang bersifat privasi daripada memikirkan kesejahteraan dan makmurnya suatu negeri.

Pemuda masa kini sangat mudah diperbudak oleh para kapitalis yang berdampak sempitnya ruang gerak dirinya di depan kelak.

Pemuda masa kini, kebanyakan dari mereka adalah pemuda “in the box”, bukan “out of the box”. Banyak dari mereka yang lebih menyelesaikan suatu hal secara dangkal berbalut rasa damai sebagai suatu alasan, daripada dengan telaah mendalam dan berkomitmen tinggi dalam menyelesaikan segala perkara yang harus dihadapinya.

Kemudian, dampak dari semua itu adalah hilangnya bumi pertiwi kepada asing. Zamrud khatulistiwa nan kaya raya ini telah habis diekploitasi untuk kepentingan negeri orang daripada memberdayakan negeri sendiri.

Alasannya sederhana, yakni para pemuda kini telah lupa pada jatidirinya sebagai sosok pejuang perubahan. Kini dirinya asyik dengan kecanggihan teknologi dan informasi yang serba instan tanpa ingin tahu dan memfilter dampak dari yang akan dihasilkan hal tersebut.

Padahal Ir. Soekarno yang sering dijadikan rujukan sebagai pengobar semangat perjuangan dan perubahan pernah berkata, “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan aku cabut Semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Selain itu, Ir. Soekarno pun berkata, “Lebih baik jadi singa satu hari, daripada jadi kucing seumur hidup!”

Dari perkataan bung Karno di atas, sangat ditekankan bahwa pemuda adalah harapan dan hendaklah mereka bersikap kritis dalam menghadapi berbagai persoalan di depan. Adapun mereka yang sering terlena oleh kesenangan dunia, hendaklah mereka merenungkan QS. Al-Maidah: 100 yang berbunyi:

Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan."

Pemuda adalah harapan hari ini dan esok tiba. Mereka kehilangan jatidiri akibat jauhnya ia dari kepekaan terhadap segala sistem kehidupan, khususnya terhadap ruhiyah yang sejatinya ia ketahui bahwa kitab suci adalah pedoman dalam mengarungi dan mencari jawaban dari berbagai persoalan yang menimpa kehidupan. Selain memiliki semangat yang masih segar, pemuda dituntut agar senantiasa aktif, saling bersinergi serta bersuara dalam mengokohkan pondasi keadilan, kesejahteraan, kemakmuran dan keutuhan suatu negeri, khususnya terhadap dirinya pribadi agar tetap istiqomah menapaki hari-harinya kelak diridhoi illahi.

Aurat Wanita | Bagian 2

10/25/2017 Add Comment
Mustanir Rasyid-03 Agustus 2017

aurat-wanita-bagian2-jurnal-kehidupan

Para wanita era sekarang masih banyak yang tidak mengetahui perkara apa itu Jilbab dan Kerudung. Maaf-maaf, masih saja banyak yang sibuk dengan sinetron dan drama-drama yang sering ia tonton sehingga lalai terhadap kewajibannya sendiri dalam menjalankan perintah Allah Ta'ala. Akibatnya, terlarutnya ia atas nama hiburan dan belum tentu hiburan itu pun membawa manfaat yang selayaknya ia habiskan waktunya tuk menabur pahala bagi diri dan sekelilingnya.

Tulisan tentang Kerudung dan Jilbab sebetulnya lebih koherensi jika yang menyampaikannya ialah wanita itu sendiri. Namun, bagi saya sendiri tidak masalah ketika saya sebagai pria mengetahui tentang hal ini untuk di share kan. Tetapi, bagi wanita yang membaca tulisan saya mengenai perkara ini, alangkah baiknya didakwahkan kembali, karena kalianlah yang memiliki hak dan lebih nyambung nantinya.

Oke, dari pada bingung dan penasaran silahkan simak tulisan berikut ini.

Pertama, perlu ditegaskan bahwa kita berpakaian tidak semata-mata menutup aurat! Melainkan harus syar'i.

Ada beberapa pendapat di kalangan ulama tentang definisi jilbab.

Ibnu Rajab mengatakan jilbab itu mala-ah (kain yang menutupi seluruh tubuh dari kepala sampai kaki yang dipakai melapisi baju bagian dalamnya, seperti jas hujan). Pendapat ini juga dipilih oleh al-Baghawi dalam tafsirnya dan al-Albani.

Ada juga yang berpendapat jilbab itu sama dengan khimar alias kerudung sebagaimana disebutkan oleh an-Nawawi, Ibnu Hajar, dll. As-Sindi mengatakan, “Jilbab adalah kain yang digunakan oleh seorang perempuan untuk menutupi kepala, dada, dan punggung ketika keluar rumah.” (Muslimah.or.id)

Kedua, kita harus mengetahui ayat mana yang memerintahkan perkara jilbab. Jawabannya yakni Al Ahzab: 59 yang artinya sebagai berikut.

"Hai Nabi, katakanlah kepada istri istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka." yang demikian itu supaya mereka lebih mudah Untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang." (QS al-ahzab: 59)

Asbabun Nuzul QS. Al-Ahzab: 59 tentang wajibnya Jilbab. Diriwayatkan bahwa istri" Rasulullah pernah keluar malam untuk hajat buang air, pada waktu itu kaum munafiqin menggangu mereka dan menyakiti. Hal ini kemudian diadukan kepada Rasulullah SAW, sehingga Rasul menegur kaum munafiqin. Mereka menjawab: "kami hanya mengganggu hamba sahaya." Turunlah QS. Al Azhab: 59 sebagai perintah berpakaian tertutup agar berbeda dari hamba sahaya (diriwayatkan oleh Ibnu Sa'd di dalam a Thabaqat bersumber dari Abu Malik. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Sa'd bersumber dari Hasan dan Muhammad bin Ka'bal al Quradhi).

Hadits yang datang dari Ummu 'Athiyyah ra, ia berkata:

"Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk keluar pada Idul Fitri maupun Idul Adha, baik para gadis, wanita yang sedang haid, dan yang lainnya. Adapun yang sedang haid, maka diperintahkan untuk meninggalkan shalat dan menyaksikan dakwah dan syiar kaum muslimin. Lalu aku bertanya: "Ya Rasulullah, bagaimana jika diantara kami ada yang tidak memiliki Jilbab?" Rasul SAW kemudian menjawab: "Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya." (HR. Muslim)

Dalam hadits tersebut Rasul tidak memberikan keringanan bagi perempuan yang tidak memiliki jilbab untuk keluar rumah hanya dengan sekedar menutup aurat. Beliau tetap memerintahkan untuk mengenakan jilbab.

Hadits di atas juga menjelaskan bahwa makna jilbab bukanlah kerudung, melainkan baju luar yang dipakai di luar baju rumahnya. Dalam kitab Shofwatut Tafaasir, Imam ash-shobuni, jilbab diartikan sebagai baju yang luas (wasi') yang menutupi aurat.

Dalam kitab Al-Mu'jam Al Wasit karya Dr. Ibrahim Anis (Kairo: Darul Maarif) hlm. 128. Jilbab diartikan "Ats tsaubul musytamil 'alal jasadi kullihi" (pakaian yang menutupi seluruh tubuh), atau "ma yulbasu fauqa ast tsiyab kal milhafah" (pakaian luar yang digunakan di atas pakaian rumah, seperti milhafah (baju terusan), atau "Al Mula'ah tasytamilu biha al mar'ah" (pakaian luar yang digunakan untuk menutupi seluruh tubuh wanita).

Semoga bermanfaat, jikalau ada yang perlu diluruskan atau ditambahkan silahkan. Tulisan-tulisan seperti ini sengaja dibuat dikala remaja banyak yang nongkrong di media sosial, karena itulah saya sengaja selalu menyempatkan diri menulis demikian setidaknya tulisan ini dapat lewat dan terbaca nantinya.

Aurat Wanita | Bagian 1

10/25/2017 Add Comment
Mustanir Rasyid-02 Agustus 2017

aurat-wanita-bagian1-jurnal-kehidupan

Maraknya pelalaian terhadap perintah Allah, padahal dirinya sudah termasuk sebagai Mukallaf (Muslim yang dikenai kewajiban menjalankan perintah agama, termasuk akil baligh di dalamnya. Dikutip dari Buku Moh. Rifa'i. Risalah Tuntunan Shalat Lengkap. 2016. (PT. Karya Toha Putra Semarang: Semarang) Bab 1.

Tidak jarang aktivitas sosial media menjadi ajang mengumbar aurat dengan memajang fotonya sebagai modus atau mencari perhatian dalam hal fisiknya. Membiarkan begitu saja aurat bertebaran tanpa rasa bersalah dan dosa yang menyelimuti dirinya. Hal ini marak terjadi di kalangan remaja terkhusus bagi kaum wanita dalam perkara ini

 Asbabun nuzul QS. An Nuur: 31 tentang Khimar diriwayatkan Asma' binti Murtsid pemilik kebun kurma, sering dikunjungi wanita-wanita yang bermain-main di kebunnya tanpa berkain panjang, sehingga terlihat gelang-gelang kakinya, dada dan sanggul. Selanjutnya Asma' berkata "Alangkah buruknya pemandangan ini, maka turunlah QS. An-Nuur: 31 berkenaan dengan peristiwa tersebut yang memerintahkan kaum mu'minat menutup aurat. (diriwayatkan oleh Ibnu Hatim dari Muqatil yang bersumber dari Jabir bin Abdillah). (Shaleh, HAA. Dahlan dan MD. Dahlan, Asbabun nuzul, 1996, hlm. 356).

Dari asbabun nuzul di atas, dijelaskan bahwa gelang" kaki, dada, sanggul perempuan Arab kala itu masih terbuka. Hal ini menunjukkan bahwa saat itu mereka belum memakai Jilbab.

Kemudian, dijelaskan tentang adanya hadits yang menceritakan bagaimana para muslimah bersegera menutup kepalanya, sebelumnya mereka tidak sempurna menutupnya.

Dari 'Aisyah ra, ia berkata: "semoga Allah merahmati kaum wanita yang hijrah pertama kali, ketika Allah menurunkan firman-Nya. "Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung mereka ke dadanya" (TQS An-Nuur: 31) maka kaum wanita itu merobek kain sarung mereka dan menutup kepala mereka dengannya". (HR. Bukhari)

Bagaimana dengan cerita di atas tadi? Ketika turun ayat mereka langsung taat, sami'na wa ato'na (kami dengar dan kami taat). Lalu bagaimana dengan kamu wahai muslimah? Bukankah dahulu mereka (wanita Arab) jahiliyah? Bandingkan denganmu yang sekarang islam dari lahir? Renungilah...

Dari Shafiyah binti Syaibah ra, bahwa 'Aisyah ra menuturkan wanita Anshar kemudian beliau memuji mereka dan berkata tentang mereka dengan baik. Beliau berkata "ketika diturunkan Surat An-Nuur: 31, maka mereka mengambil kain-kain Tirai mereka kemudian merobeknya dan menjadikannya kerudung."

Sekali lagi sebelum lanjut membaca. Lalu bagaimana dengan kamu wahai muslimah? Bukankah dahulu mereka (wanita Arab) jahiliyah? Bandingkan denganmu yang sekarang islam dari lahir? Renungilah...

Dari kisah di atas, bagaimana perbedaan mental para sahabiyah terdahulu dengan wanita muda sekarang?

Mirisnya di era sekarang, uang untuk membeli kerudung saja sudah bisa terbeli dan harganya tidak terlalu fantastis. Namun sayangnya, masih banyak mayoritas yang lebih mengutamakan pakaian trendi ala barat walau harus melabrak syariat bahkan tidak memperdulikan urusan agama walau harus dibeli dengan harga yang aduhai.

Padahal, makna dari pakaian yang dipakai itu apa? Dapatkah pakaiannya yang mahal dan trendi itu menyelamatkannya di Akhirat kelak? Apakah itu kebahagiaan ketika kita membelinya? Ataukah tergiur dengan adanya istilah trend?

Banyak yang sibuk mencari majalah-majalah atau search tentang model pakaian-pakaian yang lagi ngetop tapi mengabaikan bagaimana islam mengatur pakaian yang syar'i dalam kehidupannya, bahkan mirisnya lagi mereka malah mengenal asing yang namanya pakaian syar'i muslimah itu sendiri. Yang mereka kenali ialah kerudung dengan bawahan Jeans atau baju yang ketat.

Efek dari jauhnya diri dari agama ialah ibarat kita bertamasya yang berharap indah saat perjalanannya namun ujungnya tersesat di dalamnya, sehingga datanglah bala bahaya yang datang mengancamnya.